SITUBONDO (SBINews.id) — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN bersama Pemerintah Kabupaten Situbondo meresmikan Waste Station sebagai fasilitas pengelolaan sampah di kawasan Alun-alun Situbondo, Rabu (2/9/2026).
Peresmian fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemilahan serta pengelolaan sampah.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, S.Sos., M.SM., Kepala Kantor Wilayah BTN Jatim Bali Nusra Bagus Hendri Setiawan beserta jajaran manajemen BTN, Kepala Departemen Divisi ERMD Nurina Indri Ayuningtyas, serta Senior Vice President (SVP) of Business Growth & Partnerships Rekosistem Angga Adhitya Fritz Aradana.
Hadir pula Sekretaris Daerah Situbondo Drs. H. A. Yulianto, M.Si., Kepala Cabang BTN Banyuwangi Andzar Fahmi, Kepala Cabang Pembantu BTN Situbondo Irfai Anwar, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Situbondo dr. Sandy Hendrayono, M.Kes., para kepala OPD, Camat Situbondo dan Panji, pimpinan perguruan tinggi, kepala sekolah, pimpinan perusahaan, pengelola bank sampah, komunitas lingkungan, serta perwakilan Rekosistem.
Dalam sambutannya, Bagus Hendri Setiawan mengatakan, kehadiran Waste Station merupakan wujud tanggung jawab sosial dan lingkungan BTN sekaligus bentuk kontribusi perusahaan dalam mendukung upaya pengelolaan sampah.

“Ini adalah Waste Station pertama Bank BTN dan pertama dilakukan di Kabupaten Situbondo,” ujarnya.
Menurut Bagus, persoalan sampah menjadi perhatian di berbagai daerah. Karena itu, BTN berupaya mengambil bagian dalam membangun kesadaran dan budaya masyarakat untuk mengelola sampah dengan lebih baik.
Ia mengapresiasi Pemkab Situbondo yang telah membuka ruang kolaborasi bagi BTN untuk berkontribusi melalui program tersebut.
“Kami percaya bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya mengenai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana kita menjaga lingkungan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat,” katanya.
Bagus berharap fasilitas tersebut dapat dirawat, dimanfaatkan, dan dikembangkan secara bersama-sama sehingga memberikan manfaat dalam jangka panjang. Ia juga mengajak masyarakat memulai perubahan dari hal-hal sederhana, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik dan mengajak lingkungan sekitar menerapkan kebiasaan serupa.
“Semoga fasilitas ini menjadi simbol komitmen kita bersama untuk menciptakan Situbondo yang lebih bersih, sehat, hijau dan berkelanjutan. BTN hadir, tumbuh, dan memberikan manfaat bersama masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menegaskan bahwa keberadaan fasilitas pengelolaan sampah harus diikuti perubahan pola pikir masyarakat.
Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah infrastruktur maupun mengandalkan pemerintah dan relawan.

“Kalau mentalnya masih mental buang sampah sembarangan, waste station mau dibikin seribu tidak cukup,” tegas Mas Rio.
Ia menyebut, Pemkab Situbondo telah melakukan sejumlah langkah untuk menangani persoalan sampah, di antaranya menginisiasi pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di tiga titik, pengadaan kendaraan pengangkut sampah, serta gerakan kebersihan lingkungan.
Namun, berbagai kebijakan tersebut dinilai tidak akan optimal tanpa perubahan mentalitas masyarakat.
Mas Rio juga menyinggung kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang diperkirakan semakin jenuh pada 2027. Menurutnya, seluruh sampah dari wilayah barat hingga timur Situbondo masih bertumpu pada satu titik TPA sehingga diperlukan langkah penanganan yang lebih serius.
“Ini bukan soal seberapa hebat kinerja pemerintah atau seberapa banyak volunteer yang fokus pada sampah. Ini soal mentalitas,” katanya.
Ia mencontohkan kebiasaan dirinya memungut sampah ketika berkeliling di kawasan alun-alun. Menurutnya, tindakan tersebut bukan sekadar membersihkan lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya memberikan contoh dan literasi kepada masyarakat.
Mas Rio berharap keberadaan Waste Station yang diberikan BTN dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat, khususnya komunitas lingkungan dan pengelola bank sampah.
Ia juga mengajak komunitas seperti Car Free Day dan komunitas lainnya untuk ikut mengedukasi pedagang serta masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik.
“Kalau mau naik kelas, mindset-nya harus berubah. Kita harus shifting mindset, bahwa soal sampah ini sangat membahayakan,” ujarnya.
Mas Rio menambahkan, Pemkab Situbondo terbuka terhadap kolaborasi dengan komunitas maupun pihak swasta dalam persoalan lingkungan. Pemerintah daerah, kata dia, siap mendukung dari sisi kebijakan dan penganggaran.
“Mudah-mudahan Pemkab Situbondo bersama BTN lebih bersinergi lagi dalam banyak hal. Kita sama-sama membangun Situbondo yang naik kelas,” pungkasnya.
Peresmian Waste Station tersebut diharapkan menjadi langkah awal memperluas kolaborasi pengelolaan sampah sekaligus mendorong terbentuknya budaya memilah dan mengurangi sampah dari sumbernya di tengah masyarakat Situbondo.












