SITUBONDO (SBINews.id) – Suasana pelataran Gedung Pusat Oleh-oleh Situbondo di Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, tampak berbeda pada Minggu sore (22/2/26). Ratusan pelaku UMKM berkumpul dalam pembukaan gelaran Si Pandhan (Serba-serbi Panji Ramadhan), sebuah wadah ekonomi kreatif yang diinisiasi untuk menyemarakkan bulan suci sekaligus memutar roda ekonomi lokal.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang akrab disapa Mas Rio, hadir membuka acara dengan gaya khasnya yang santai dan penuh humor. Dalam sambutannya, ia tidak hanya memberikan apresiasi, tetapi juga memaparkan visi besar Situbondo di tahun 2026.
Membuka narasi sambutannya, Mas Rio membagikan momen personal tentang Camat Panji, Kiptiyah Rikawati, S.TP, M.Si. . Ia mengenang bagaimana sang Camat sempat menangis karena merasa tidak sanggup saat awal ditugaskan.
“Dulu lapor sana-sini karena merasa tidak mampu. Tapi sekarang saat saya tanya, jawabannya justru ‘Enak, Pak!‘. Ternyata, setelah 16 tahun bekerja di balik layar, beliau justru menikmati tantangan lapangan dan bertemu langsung dengan warga,” ujar Mas Rio disambut tawa hadirin.

Mas Rio menegaskan bahwa penguatan UMKM bukan sekadar seremonial. Ia memberikan instruksi khusus kepada Diskoperindag untuk segera mengaktifkan Rumah Kemasan. Menurutnya, kualitas pengemasan adalah kunci agar produk Situbondo mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Selain urusan perut, urusan infrastruktur juga menjadi sorotan. Mas Rio mengaku sering menerima komplain langsung dari warga saat melakukan Live TikTok, terutama terkait lampu penerangan jalan (PJU) dan jalan rusak.
“Pak Nugroho (Kadishub) hampir setiap hari saya telepon karena keluhan warga di TikTok. Alhamdulillah, Kapongan dan Pasar Asembagus sudah beres. Untuk wilayah lain seperti Kendit, saya mohon warga bersabar. Anggaran kita memang terkena pemotongan dari pusat, tapi kita tidak akan menyerah,” tegasnya.
Satu poin krusial yang disampaikan Mas Rio adalah hambatan permodalan. Ia mengungkapkan fakta mengejutkan: dari 1.800 pendaftar program Forsa UMKM, hanya 5 orang yang lolos verifikasi bank. Penyebab utamanya adalah buruknya riwayat kredit atau skor SLIK akibat tunggakan kecil, seperti paylater.
“Sangat tidak adil jika warga ditolak pinjamannya hanya karena tunggakan 50 ribu rupiah, sementara korporasi besar dapat triliunan. Saya sudah bersurat ke Pusat dan Komisi XI DPR RI agar ada relaksasi atau pemutihan utang bagi rakyat kecil supaya mereka bisa kembali produktif,” tambahnya.
Di sektor ketahanan pangan, Mas Rio mematok target tinggi. Ia menginstruksikan Dinas Pertanian untuk mengejar produksi gabah sebesar 500.000 ton pada tahun 2026. Target ini dipasang setelah melihat tren positif kenaikan produksi dari 290 ribu ton di tahun sebelumnya menjadi 321 ribu ton di tahun ini.
Acara ini juga menjadi ajang unjuk kekompakan antara eksekutif, legislatif, dan tokoh masyarakat. Kehadiran anggota dewan, jajaran Forkopimca, hingga tokoh agama seperti Lora Ainul Yaqin, menunjukkan bahwa pembangunan Situbondo dilakukan dengan cara kolaboratif.












