SITUBONDO — Empat jam percakapan dengan sejumlah Ketua PWNU di Jakarta meninggalkan kesan tersendiri bagi Haji Raden Mas Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur.
Pertemuan yang awalnya berlangsung sebagai ajang ngopi dan bertukar pandangan itu, menurut Gus Lilur, justru berkembang menjadi pembicaraan serius mengenai dugaan praktik suap dan jual beli suara dalam Muktamar.
Sejumlah hal disebut menjadi bahan pembicaraan, mulai dari dugaan pengumpulan PCNU dan PWNU sebelum Muktamar, pemberian DP kepada pihak-pihak tertentu, hingga dugaan pelunasan pembayaran di sejumlah tempat.
Salah satu lokasi yang disebut dalam percakapan tersebut adalah Hotel Fatma di Jombang. Gus Lilur menyebut tempat itu sebagai lokasi yang menurut informasi yang diterimanya menjadi salah satu titik pelunasan DP dengan jumlah terbanyak. Ia juga mengaitkan kepemilikan hotel tersebut dengan Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.
Yang membuat Gus Lilur tertawa justru bukan semata-mata pembicaraan mengenai dugaan transaksi tersebut. Ada satu pertanyaan dari seorang sahabatnya, yang disebut merupakan Ketua PWNU dari wilayah Sumatera, yang menurut Gus Lilur terdengar ironis sekaligus menggelitik.
“Kok bisa ya? Gus Ipul tanpa muka berdosa, tanpa rasa bersalah, seakan sama sekali gak ada suap dan transaksi jual beli suara, padahal dialah ORKESTRATOR UTAMA suap dan jual beli suara di Muktamar, baik dg mengumpulkan banyak PCNU dan PWNU sblm Muktamar dan memberikan DP serta saat EKSEKUSI PELUNASAN DP di Hotel FATMA Jombang?” demikian pertanyaan tersebut.
“Jawabannya ada dua. Pertama versi agama, kedua versi drama,” kata Gus Lilur. Untuk versi agama, ia menggunakan istilah “Munafik Terbaik”. Sementara untuk versi drama, ia menyebut sosok yang dikritiknya sebagai “Aktor Sejati”.
Aktor Sejati, lanjut Gus Lilur, selalu memerankan peran secara mumpuni, menjiwai lakon yg diperankan, menghayati figur yang sedang dimainkan. Kali ini, menurut Gus Lilur, Gus Ipul sedang memerankan peran sebagai lakon PENJAGA MORAL MUKTAMAR, peran yang dilakoninya adalah lakon bahwa tidak ada suap di Muktamar. Meskipun di dunia nyata, dialah Penulis Skenario serta Aktor Utama pelaku transaksi jual beli suara.
Gus Lilur menilai bahwa secara psikologis, Gus Ipul sedang sakit jiwa. Sebenarnya jiwanya memberontak atas kebohongan yang ditampilkannya, sementara tuntutan kenyataan mengharuskannya untuk terus berdusta dan membersihkan fakta bahwa ternyata praktik jual beli suara yang dikomandaninya bocor dan jadi konsumsi renyah obrolan rakyat senegara.
Bahkan Gus Lilur melihat bahwa Gus Ipul malah kembali berpura-pura meyakinkan dirinya bahwa rakyat senegara Indonesia masih bisa dibohonginya melalui banyak teriakan dusta Para Penjilatnya. Gus Ipul khawatir pendananya murka dan membuangnya, sehingga kembali berdusta menjadi pilihannya.
Gus Lilur kemudian menjelaskan bahwa dalam salah satu teori pengobatan Orang Gila, menampar pipi kanan kiri dan mulut Orang Gila adalah pengobatan mujarab. Dengan menggunakan teori tersebut, nampaknya menampar mulut Gus Ipul bisa jadi solusi menyadarkannya dari AKTING SEMPURNANYA bahwa AKTINGNYA memang bagus namun kebohongannya sudah diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia.
“Pul, Ipul, pul, ipul, pul.., Kau Aktor Sejati dan Munafik Terbaik pembungkus rakyasa dusta yang jadi Menteri di Republik ini!” kritik Gus Lilur dengan nada sangat keras.
“Bagaimana Republik ini bisa maju jika Menterinya adalah AKTOR PENIPU yg pura-pura suci saat upaya mencuri sepatu ketahuan, lalu datang ke KPK melakukan klarifikasi laksana Resi, bahkan sebenarnya dialah dalang pencuri. Kemudian berpura-pura seakan tidak ada apa-apa,” sambungnya. Ia menyebut perilaku tersebut dengan istilah Aktor sejati.
Seruan Gus Lilur:
“Pul, Ipul, Pul, Ipul, Pul, sadarlah! Semuanya sudah tahu Kau berdusta! BUKA DULU TOPENGMU!!! PENSIUN!!! Kami sudah muak dengan Akting Murahanmu!!!”
Salam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Salam Amar Makruf Nahiy Mungkar
Haji Raden Mas Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy
Cicit Sayyidina Ali
Cicit Ken Arok
Warga NU Anti Kyai Munafik










