Menaklukkan Langit Global dari Kamar 1803: Ikhtiar Gus Lilur Membawa Tembakau Nusantara Mendunia

SITUBONDO (SBINews.id) – Di keheningan malam dari lantai 18 Hotel JW Marriott, Kuala Lumpur, sebuah visi besar untuk kedaulatan ekonomi Indonesia baru saja diketuk palu. HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang akrab disapa Gus Lilur, tidak sedang sekadar melancong. Di ibu kota Malaysia tersebut, ia membawa misi besar: memutus rantai inferioritas tembakau Indonesia di mata dunia.

Melalui diskusi intensif bersama rekan sejawat dari delapan negara, Gus Lilur resmi menginisiasi lahirnya Bandar Rokok Nusantara Global Grup, atau yang disingkat BARONG GRUP. Entitas ini bukan sekadar perusahaan rokok biasa, melainkan “kendaraan tempur” yang dirancang khusus untuk melakukan ekspansi agresif ke pasar internasional.

Bagi Gus Lilur, sudah saatnya Indonesia berhenti menjadi penonton di rumah sendiri. Selama dekade demi dekade, raksasa rokok dunia melenggang bebas menguasai pasar Republik Indonesia. Kini, BARONG GRUP hadir untuk membalikkan keadaan melalui tiga agenda besar yang disebutnya sebagai EPARSIA (Ekspedisi Pasar dan Pabrik Rokok):

  1. Penaklukan Pasar: Melakukan ekspansi masif ke wilayah Asia hingga Australia.
  2. Hilirisasi Global: Tidak hanya menjual produk jadi, BARONG GRUP berencana membangun pabrik-pabrik produksi langsung di berbagai negara di Asia dan Australia.
  3. Membangun Raksasa Indonesia: Menciptakan ekosistem pabrik rokok skala besar di tanah air yang mampu bersaing di panggung dunia.

“Kunci utama bisnis rokok adalah tembakau, dan Republik Indonesia adalah gudangnya tembakau nikmat,” tegas Gus Lilur. Ia menyayangkan sikap ‘ngeper’ atau rendah diri yang selama ini menghinggapi pelaku industri lokal saat berhadapan dengan korporasi global.

Dalam narasi visinya, Gus Lilur memetakan kekayaan “emas hijau” Nusantara yang tak tertandingi:

  • Virginia Blend terbaik dari Lombok, NTB.
  • Oriental Blend kelas dunia dari Madura.
  • Burley Blend unggulan dari Jember.
  • Hingga cita rasa istimewa dari Besuki (Situbondo), Deli, Srintil (Temanggung), dan Lumajang.
Baca Juga:
BARONG GRUP Kembangkan Tangan Bisnis: Menapak Jejak Industri Tembakau di Malaysia

Namun, sebuah pertanyaan besar membayangi kehebatan tersebut: Mengapa petani tembakau kita masih berkutat dengan kemiskinan selama puluhan tahun?

Inilah yang menjadi bahan bakar perjuangan BARONG GRUP. Gus Lilur memandang bahwa kesejahteraan petani hanya bisa dicapai jika produk mereka punya posisi tawar di pasar global. Dengan membangun pabrik di luar negeri namun tetap menggunakan bahan baku tembakau dari petani Indonesia, ia berharap roda ekonomi rakyat akan berputar lebih kencang.

Perjalanan ini adalah sebuah ziarah ekonomi. Dari kamar 1803, sebuah doa dilangitkan agar rencana ini bukan sekadar coretan di atas kertas, melainkan sebuah kenyataan yang membawa kemaslahatan bagi jutaan petani tembakau di tanah air.

“Saatnya Tembakau Nusantara mendunia. Saatnya rokok Indonesia ‘ngebul’ di banyak negara,” pungkasnya.

Langkah BARONG GRUP kini dinanti. Apakah ini akan menjadi titik balik bagi Indonesia untuk berhenti menjadi pasar dan mulai menjadi penguasa? Bagi Gus Lilur, jawabannya hanya satu: Bismillah, saatnya anak bangsa berani melangkah.

Penulis: Info WAG Wartawan PremiumEditor: Hamzah
error: