SITUBONDO (SBINews.id) – Meski secara administratif tidak mengenal istilah “Pasangan Calon” (Paslon), realitas politik menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menunjukkan fenomena yang serupa. Di balik dinding pesantren dan ruang-ruang diskusi, konfigurasi duet antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU kini menjadi jantung dari pertarungan pengaruh yang semakin meruncing.
Secara normatif, Rais Aam dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, rahasia umum di internal organisasi mengungkapkan bahwa AHWA tidaklah steril dari kepentingan. Komposisi sembilan kiai sepuh ini kerap menjadi “arena strategis” yang dikondisikan sejak dini oleh para aktor utama untuk mengamankan kursi kepemimpinan.
Manuver AHWA dan Strategi Gus Ipul
Dinamika memanas saat nama Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mencuat dalam desas-desus pengondisian AHWA. Ia ditengarai tengah berupaya membentengi komposisi AHWA dari figur yang dianggap berseberangan, termasuk dua kiai kharismatik: KH. Nurul Huda Jazuli dan KH. Kafabihi Makhrus.
Keduanya dipersepsikan memiliki kedekatan dengan Said Aqil Siradj, sementara Gus Ipul diyakini ingin mempertahankan posisi KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam. Realitas ini menegaskan bahwa pertarungan Muktamar tidak dimulai saat pemungutan suara, melainkan jauh sebelumnya—di ruang-ruang penentuan siapa yang berhak memilih.
Peta Kekuatan: Lima Poros Menuju Kursi Puncak
Hingga hari ini, setidaknya terdapat lima poros kekuatan yang tengah mengkristal:
- Poros Petahana (Yahya Cholil Staquf): Gus Yahya dipastikan kembali maju sebagai calon Ketua Umum. Namun, ia sedang berada dalam fase krusial mencari pendamping Rais Aam yang tepat setelah pecahnya kongsi lama.
- Poros Gus Ipul: Memiliki misi utama mempertahankan posisinya sebagai Sekjen dan menjaga KH. Miftachul Akhyar di kursi Rais Aam, sembari terus menimbang sosok Ketua Umum yang paling ideal.
- Poros Afiliasi Politik (PKB): Jaringan yang beririsan dengan Partai Kebangkitan Bangsa mulai merapatkan barisan, mengusung skema Ketua Umum tertentu dengan menyodorkan nama KH. Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
- Poros Birokrasi (Kementerian Agama): Muncul pembacaan kuat terhadap figur Menteri Agama, Nazaruddin Umar, sebagai calon Ketua Umum. Kekuatan ini masih membuka ruang konfigurasi untuk posisi Rais Aam.
- Poros Alternatif: Kekuatan yang biasanya muncul sebagai jalan tengah melalui kompromi menit-menit terakhir (last minute deal) ketika terjadi kebuntuan di antara poros-poros utama.
Skenario Koalisi Besar
Wacana menarik muncul dari forum IKA PMII. Jika sinyal-sinyal politik dalam forum tersebut benar adanya, maka koalisi besar antara jaringan PKB, Kementerian Agama, dan barisan pendukung Said Aqil Siradj bisa saja terwujud.
“Jika figur seperti Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, dan Nazaruddin Umar bersatu dalam satu frekuensi, maka Muktamar bisa saja dianggap ‘selesai’ bahkan sebelum forum resmi dibuka.”
Namun, di NU, matematika politik seringkali menemui anomali. Faktor kiai-kiai pesantren sering menjadi penentu akhir yang tak terduga.
Pecahnya “Dwi Tunggal” Staquf-Miftach
Pertanyaan besar yang menggantung adalah mengapa duet Yahya Cholil Staquf dan Miftachul Akhyar tidak lagi berlanjut? Retaknya hubungan ini mencerminkan adanya ketegangan laten—entah itu perbedaan strategi, akses terhadap sumber daya, jaringan internasional, atau visi mendasar tentang arah organisasi ke depan.
Kabar terbaru menyebutkan Gus Yahya telah menjalin komunikasi dengan KH. Said Aqil Siradj untuk posisi Rais Aam, meski kabarnya belum berbalas. Dengan modal awal dukungan sekitar 40 persen, Gus Yahya berada di posisi yang cukup kuat namun rawan. Jika Said Aqil memilih berlabuh ke poros lain, Gus Yahya diprediksi akan berpaling kepada sosok seperti **KH. Asep Saifuddin Halim** atau bahkan **KH. Ma’ruf Amin**.
Epilog: Lebih dari Sekadar Pemilihan
Pada akhirnya, penggunaan istilah “paslon” menggambarkan realitas bahwa kepemimpinan di NU adalah dwitunggal yang tak terpisahkan. Rais Aam sebagai penjaga gawang syariat dan Ketua Umum sebagai nakhoda organisasi haruslah seirama.
Muktamar ke-35 bukan sekadar ritual lima tahunan untuk memilih pemimpin. Ia adalah palagan ideologi, kepentingan, dan penentuan ke mana arah bahtera NU akan berlayar di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Menarik untuk dinanti, siapa yang akan bertahan hingga garis finis?
Catatan: Analis adalah Warga NU sekaligus Kiai Kampung dan juga Pengusaha Rokok


