Opini  

Menakar Peta Paslon di Muktamar NU ke-35: Koalisi, Ambisi, dan Marwah Organisasi

Disadur dari Catatan HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy (Gus Lilur)

SITUBONDO (SBINews.id) – Agustus 2026 masih beberapa bulan lagi, namun aroma kompetisi menuju Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 sudah mulai menyengat. Dinamika internal organisasi Islam terbesar di dunia ini kian menghangat seiring munculnya berbagai manuver politik organisasi yang semakin terang-terangan. Menariknya, kontestasi kali ini tidak lagi sekadar menonjolkan figur tunggal, melainkan mulai mengerucut pada format ‘Pasangan Calon’ atau Paslon antara Rais Aam dan Ketua Umum.

Meski secara konstitusional Rais Aam dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), realitas di lapangan menunjukkan bahwa komposisi AHWA sering kali menjadi ruang negosiasi dan pengaruh bagi kepentingan pasangan calon tertentu.

Enam Poros Menuju Kursi Puncak

Berdasarkan pencermatan mendalam terhadap pergerakan para aktor utama, peta kekuatan saat ini terbagi ke dalam enam poros kekuatan:

  1. Poros Petahana PBNU: Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) tengah mengonsolidasi kekuatan. Misinya saat ini adalah mencari sosok Rais Aam yang mampu memperkuat legitimasi dan memperluas basis dukungan di akar rumput.
  2. Poros Rais Aam – Sekjen: Duet Miftachul Akhyar dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) tetap menjadi pemain kunci. Keduanya kini sedang berburu figur Ketua Umum yang sejalan dengan visi mereka.
  3. Poros Kekuasaan: Menteri Agama Nazaruddin Umar muncul sebagai figur kuat yang disokong oleh kekuatan penguasa. Fokus utamanya saat ini adalah mencari pasangan Rais Aam yang sepadan.
  4. Poros PKB – IKA PMII: Kelompok ini memiliki basis suara yang paling solid. Meski internal mereka masih menggodok nama antara KH. Abdussalam Shohib, KH. Yusuf Chudhori, KH. Imam Jazuli, atau KH. Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin), satu hal sudah pasti: mereka mengusung KH. Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.
  5. Poros PWNU Jawa Timur: Jejaring ini mendorong KH Abdul Hakim Mahfuz (Gus Kikin), yang saat ini masih dalam tahap penjajakan mencari pasangan Rais Aam.
  6. Poros Alternatif Jawa Timur: Muncul nama KH Marzuki Mustamar yang mulai mengkristal dengan dukungan tetap kepada KH Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.
Baca Juga:
Di Balik Tabir Muktamar: Membaca Rivalitas PASLON Pemimpin NU

Matematika Suara: Kunci Kemenangan

Jika melihat angka-angka di atas kertas, kontestasi ini akan menjadi perang data. Jaringan PKB-IKA PMII diperkirakan memegang kendali atas kurang lebih 250 suara nasional. Di sisi lain, jejaring Kementerian Agama membuntuti dengan sekitar 130 suara.

Petahana Ketua Umum dan Rais Aam masing-masing diperkirakan mengantongi sekitar 100 suara (20 persen). Dengan sisa 70 hingga 80 suara yang masih mengambang (floating mass), peluang kemenangan terbesar tampak berada di tangan jaringan PKB-IKA PMII, terlebih jika mereka mampu menjalin koalisi dengan jaringan Kementerian Agama.

Jika kedua kekuatan raksasa ini bersatu, total dukungan bisa menyentuh angka 400 suara—sebuah angka yang secara matematis akan mengunci kemenangan lebih awal.

Skenario Kompromi: ‘Selesai Sebelum Dimulai’

Pertanyaan besarnya adalah: bersediakah poros PKB-PMII melepas ambisi Ketua Umum demi mendukung Nazaruddin Umar, asalkan Said Aqil Siradj duduk di kursi Rais Aam? Jika skenario ini terwujud dan mendapat restu dari tokoh kunci seperti Muhaimin Iskandar serta Nusron Wahid, maka Muktamar bisa jadi akan ‘selesai sebelum dimulai‘.

Namun, politik NU tidak pernah linear. Gus Yahya bisa saja membangun benteng pertahanan dengan menggandeng tokoh sekaliber KH Asep Saifuddin Chalim atau bahkan KH Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam. Belum lagi potensi munculnya duet KH Zulfa Mustofa dan KH Miftachul Akhyar yang bisa menjadi kuda hitam.

Ujian Kemandirian: Belajar dari Sejarah

Di balik hiruk-pikuk perebutan kursi, ada satu peringatan keras yang menggema: kemandirian NU. Sejarah mencatat bahwa intervensi kekuasaan yang terlalu jauh sering kali berujung pada keretakan kepemimpinan organisasi.

Muktamar ke-35 seharusnya menjadi momentum bagi NU untuk kembali pada khitahnya sebagai organisasi yang berdaulat dan bermartabat. Sebagai fondasi republik, NU tidak boleh sekadar menjadi alat politik praktis atau tunduk pada kepentingan kekuasaan jangka pendek.

Baca Juga:
Sengkarut Kewenangan Berakhir, Gus Lilur: UU Minerba Baru Akhiri ‘Perang’ KKP dan ESDM

Pertarungan menuju Muktamar NU ke-35 adalah pertemuan antara strategi jaringan dan idealisme nilai. Siapa pun yang akhirnya terpilih, tanggung jawab terbesarnya adalah memastikan NU tetap berdiri kokoh sebagai kekuatan moral bangsa—bebas dari intervensi, mandiri dalam langkah.

 

Ttd: Gus Lilur (Warga NU, Kiai Kampung)

Penulis: HamzahEditor: Redaksi
error: