Berita  

Kopdar Pataji Nusa Aji Situbondo dan Pataji Sapu Jagat, Ratusan Tosan Aji Dijamas dan Puluhan Pusaka Dilelang

SITUBONDO (SBINews.id) – Semangat pelestarian budaya leluhur mewarnai kegiatan Kopi Darat (Kopdar) Perkumpulan Pelestari Tosan Aji (PATAJI) yang digelar di Villa Plasman, Jalan Raya Bletok, Kecamatan Bungatan, Situbondo, Minggu. Kegiatan tersebut mempertemukan dua komunitas pelestari pusaka, yakni Pataji Nusa Aji dari Mlandingan Kulon, Situbondo, sebagai tuan rumah dan Pataji Sapu Jagat dari Jember.

Kedua komunitas tersebut telah berbadan hukum dan tercatat telah mengantongi sertifikat dari Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI), di bawah kendali Fadli Zon selaku Ketua Umum sebagai bentuk pengakuan terhadap kiprah mereka dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya berupa keris dan berbagai benda pusaka Nusantara.

Acara berlangsung meriah dengan dihadiri kepala desa setempat beserta jajaran perangkat desa, personel Polsek Bungatan, para kolektor, pegiat budaya, serta pecinta tosan aji dari berbagai daerah. Hadir pula Muzammil Daman Huri, S.H., anggota Dewan dari Fraksi PKB serta Mahfud, Kades Karang Melok, Kecamatan Tamanan, Bondowoso. Ratusan benda pusaka berusia puluhan hingga ratusan tahun turut dipamerkan dan dibawa oleh para peserta.

Kegiatan utama dalam kopdar tersebut adalah silaturahmi antar anggota komunitas serta prosesi jamasan atau siraman pusaka. Tradisi yang rutin dilakukan menjelang bulan Suro atau Muharram dalam penanggalan Jawa itu merupakan upaya merawat benda pusaka warisan leluhur agar tetap terjaga secara fisik maupun spiritual.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, jamasan tidak hanya dimaknai sebagai proses pembersihan logam agar terhindar dari karat, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah, filosofi, dan warisan budaya yang terkandung dalam setiap pusaka.

Tosan aji sendiri merupakan istilah yang merujuk pada benda pusaka berbahan logam, yang dalam tradisi Nusantara dipercaya memiliki nilai seni, sejarah, dan budaya tinggi. Banyak di antaranya berupa keris, tombak, maupun senjata tradisional lain yang dibuat dengan teknik tempa khas para empu pada masa lampau.

Baca Juga:
Buka Si Pandhan, Mas Rio Beberkan Strategi Ekonomi Situbondo 2026: Rakyat Harus Berani Berwirausaha

Ketua Umum Pataji Nusa Aji, Hari Bawono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa komunitas yang dipimpinnya masih tergolong baru karena belum genap berusia satu tahun. Oleh karena itu, pihaknya sengaja mengundang komunitas yang lebih senior untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

“Kami mengadakan kopdar ini untuk belajar kepada senior-senior kami di Sapu Jagat sekaligus mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan. Kami sangat bangga atas kehadiran saudara-saudara dari Jember,” ujarnya.

Menurut Hari, pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi anggota Nusa Aji untuk memperluas wawasan tentang dunia perkerisan, mulai dari aspek sejarah, perawatan pusaka, hingga peluang transaksi dan pemaharan benda-benda koleksi.

Ia berharap kerja sama dan komunikasi antar komunitas pelestari pusaka di Jawa Timur dapat terus terjalin, termasuk dengan komunitas-komunitas lain yang tergabung dalam jaringan PATAJI maupun organisasi pelestari budaya serupa.

“Ke depan kami berharap bisa kembali mengadakan kopdar dengan komunitas lain. Semoga kegiatan seperti ini semakin memperkuat persaudaraan dan kecintaan terhadap budaya leluhur,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Pataji Sapu Jagat Jember, Hadi Sucipto, yang hadir mewakili Ketua Umum Dodi Hariyanto periode 2026–2031, memperkenalkan susunan kepengurusan baru organisasi tersebut sekaligus menyampaikan pentingnya menjaga persatuan antarpegiat budaya.

Ia menegaskan bahwa silaturahmi yang dibangun tidak hanya bertujuan melestarikan budaya Jawa dan Madura, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan ekonomi di antara para pelestari pusaka.

“Kami ingin menyatukan para pegiat budaya dari Situbondo, Bondowoso, dan Jember. Budaya harus menjadi perekat persaudaraan sekaligus membawa manfaat bagi kesejahteraan bersama,” ujarnya.

Hadi juga menyampaikan apresiasi kepada pengurus baru Nusa Aji atas semangat mereka dalam mengembangkan komunitas pelestari tosan aji di Situbondo.

“Kami mengucapkan selamat kepada keluarga besar Nusa Aji. Semoga hubungan antarlembaga tetap harmonis, jaya, dan lestari selamanya,” tambahnya.

Baca Juga:
Raih Predikat 'Kota Menuju Bersih' Nasional, Mas Rio Siapkan Roadmap Situbondo Bebas Sampah

Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab seputar dunia kepusakaan. Para peserta saling bertukar informasi mengenai sejarah keris, teknik perawatan pusaka, identifikasi tangguh, hingga filosofi yang terkandung dalam berbagai bentuk bilah dan warangka.

Suasana semakin semarak ketika memasuki sesi pemaharan atau lelang benda pusaka. Puluhan koleksi keris, tombak, dan berbagai benda bersejarah ditawarkan kepada para kolektor yang hadir.

Dalam sesi tersebut, sejumlah transaksi berhasil terjadi dengan nilai yang bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga mencapai puluhan juta rupiah, tergantung usia, kondisi, kelangkaan, dan nilai historis masing-masing pusaka.

Puncak acara ditandai dengan prosesi jamasan dan kirab pusaka yang dipimpin oleh Mpu Saiful Bahri, selaku sesepuh sekaligus pembina Pataji Nusa Aji. Satu per satu benda pusaka dibersihkan menggunakan ramuan tradisional sebagai bagian dari ritual perawatan tahunan.

Prosesi tersebut berlangsung khidmat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta maupun masyarakat yang hadir. Banyak di antara mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk menjamaskan pusaka warisan keluarga yang telah disimpan secara turun-temurun.

Melalui kegiatan ini, para pegiat budaya berharap tradisi perkerisan dan pelestarian tosan aji tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Selain menjaga warisan leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal sejarah dan identitas budaya bangsa.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama, menandai berakhirnya kopdar yang tidak hanya mempererat persaudaraan antaranggota komunitas, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian pusaka Nusantara.

Penulis: HamzahEditor: Redaksi
error: