SITUBONDO (SBINews.id) | Alun-alun Kabupaten Situbondo dipenuhi lautan manusia pada Minggu (19/7/26). Sejak sebelum fajar, ratusan ribu jamaah dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Malaysia dan Singapura, telah memadati lokasi untuk mengikuti Haul Masyayikh Nasional yang diselenggarakan Jemaah Sholawat Nariyah.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 06.00 WIB hingga berakhir tepat pukul 08.50 WIB itu menjadi salah satu pertemuan ulama dan pesantren terbesar di Jawa Timur. Acara tersebut tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa para masyayikh Nusantara, tetapi juga menjadi ajang mempererat ukhuwah Islamiyah serta mendoakan bangsa dan negara.
Berikut daftar Masyayikh dan Kiai yang hadir dalam acara Haul Masyayikh Nasional:
- Ponpes Walisongo, Mimbaan, Panji Situbondo, Jawa Timur: KHR Muhammad Kholil As’ad Syamsul Arifin. (tuan rumah).
- Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Jangkar, Situbondo, Jawa Timur: KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D. (semestinya beliau hadir, tapi berkepatan umroh) diwakili oleh Kiai (Lora) Fadlo’il Basrowi; dan semua para Nyai. (tuan rumah).
- Ponpes Sumber Bunga, Seletreng, Kapongan, Situbondo, Jawa Timur: KH. Syainuri Sufyan Miftahul Arifin (Ra Nuri). (tuan rumah).
- Ponpes Al Falah, Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur: KH. Muhammad Abdurrahman Al Kautsar (Gus Kautsar).
- Ponpes Lirboyo, Kediri, Jawa Timur: KH. Muhammad Anwar Manshur; KH. Abdullah Kafabihi Mahrus.
- Ponpes Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur: KHA. Fuad Noerhasan; KHA. Nawawi bin Abdul Djalil; Kiai Mas Hues.
- Ponpes Tebuireng (Cukir), Ponpes Darul Ulum (Peterongan), Ponpes Bahrul Ulum (Tambakberas), Ponpes Mamba’ul Ma’arif (Denanyar), semua dari Jombang, Jawa Timur.
- Ponpes Al-Anwar di Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah: KH. Maimun Zubair (Mbah Moen); KH. Abdullah Ubab Maimoen (Gus Ubab).
- Ponpes Langitan, Widang, Tuban, Jawa Timur: KH. Ubaidillah Faqih (Gus Ubed).
- Ponpes Al-Hazimi, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur: KH Abdus Salam Mujib.
- Ponpes Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo, Jawa Timur: KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, S.H., M.M.; KH. Moh. Hasan Naufal, S.H.I., M.Pd. (Nun Boy atau Gus Boy); KH. Ahsan Qomaruzzaman (Nun Aka); KH. Hassan Ahsan Malik (Nun Hassan atau Nun Alex).
- Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur: KH. Moh. Zuhri Zaini dan semua para majelis keluarga.
- Ponpes Nurul Abror Arrabbaniyyin, Alasbuluh, Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur: KH. Fadlurrahman Zaini.
- Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata (MUBA), Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur: RKH. Faisol Abdul Hamid (Ra Faisol); KH. Abd. Mu’in Bayan Ahmad Mahfudz Zayyadi.
- Ponpes Nurul Cholil, Demangan, Bangkalan, Jawa Timur: KH. Imam Bukhari Kholil (Ra Imam); KH. Ismail Al-Kholili (Lora Ismael).
- Ponpes Darul Ulum, Banyuanyar, Potoan Daya, Palengaan, Pamekasan, Jawa Timur: RKH. Muhammad Rofi’I Baidhowi; Kiai Abbas Muhammad Rufi’i Baidhowi.
- Ponpes Darussalam, Blokagung, Karangdoro, Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur: KH. Ahmad Hisyam Syafaat; dan semua majelis keluarga.
- Ponpes Assunniyyah Al-Jauhari, Kencong, Jember, Jawa Timur: KH. Syadid Jauhari.
- Ponpes Gedang Sewu, Pare, Kediri, Jawa Timur: KH. Baidlowi.
- Ponpes Annuqayah, Lubangsa, Guluk-Guluk Sumenep, Jawa Timur: KH. Muhammad Ali Fikri; KH. Imam Hasyim; dan semua majelis keluarga.
- Ponpes Bustanul Huffadz Assaidiyah, Sampang, Jawa Timur: KH. Ainur Rofiq Mansur; KH. Abdullah Mansur.
- Ponpes Al-Mubarok, Lanbulan, Baturasang, Tambelangan, Sampang, Jawa Timur: KH. Ach. Barizi MF; Kiai Yahya Rozali.
- Ponpes Miftahul Ulum, Banyuputih Kidul, Jatiroto, Lumajang, Jawa Timur: KH. M. Husni Zuhri.
- Ponpes Kiai Syarifuddin, Wonorejo, Kedungjajang, Lumajang, Jawa Timur: KH. Dr. Muhammad Darwis.

Selain para pengasuh pesantren, tampak pula para Habaib, Gus, Lora, para Nyai, serta ratusan tokoh agama lainnya yang memenuhi panggung kehormatan maupun membaur bersama jamaah di tengah lapangan.
Turut hadir seluruh unsur Forkopimda Kabupaten Situbondo, jajaran TNI AL, anggota Komisi VI DPR RI HM Nasim Khan bersama Tim NKI, serta berbagai tokoh masyarakat dari sejumlah daerah.
Ra Nuri dalam sambutannya mewakili Ketua Panitia Penyelenggara Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio), menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Haul Masyayikh Nasional yang mempertemukan para ulama dan jamaah dari berbagai penjuru Nusantara.
Beliau mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan momentum untuk berdoa bersama demi keimanan umat, kemajuan agama, dan kejayaan Indonesia.
Ra Nuri juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh masyayikh, kiai, panitia, relawan, dan jamaah yang rela datang dari berbagai daerah melalui perjalanan darat, laut, maupun udara demi menghadiri haul tersebut.
Menurut beliau, antusiasme masyarakat Situbondo sebagai tuan rumah terlihat dari gotong royong menyediakan konsumsi bagi para tamu. Hingga menjelang subuh, panitia mencatat sedikitnya 122 ribu nasi gulung berhasil dihimpun dari masyarakat.
Selain nasi gulung, jamaah juga menyediakan kopi gratis, roti, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya sebagai wujud penghormatan kepada para tamu yang datang dari luar daerah.
Ra Nuri menjelaskan bahwa amanat tersebut berasal dari KHR Muhammad Kholil As’ad Syamsul Arifin agar masyarakat Situbondo dan Bondowoso sebagai tuan rumah melayani seluruh tamu dengan sebaik-baiknya.
Di hadapan jamaah, beliau juga menyampaikan permohonan maaf atas kemacetan lalu lintas dan berbagai ketidaknyamanan yang muncul akibat membludaknya peserta.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada jajaran kepolisian, Banser, Satgas, relawan, serta seluruh pihak yang mengamankan jalannya kegiatan sehingga acara berlangsung tertib.
Ra Nuri juga memohon maaf kepada para kiai yang tidak memperoleh tempat di panggung kehormatan karena keterbatasan kapasitas, seraya berharap seluruh jamaah dapat memaklumi kondisi tersebut.
Di akhir sambutannya, beliau mengajak seluruh jamaah agar terus mengistiqamahkan pembacaan Sholawat Nariyah, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki diri, serta menebarkan kebaikan di tengah masyarakat.
Ia sekaligus memohon doa agar Haul Masyayikh Nasional dapat terus berlanjut dalam jangka panjang. Menurutnya, terdapat harapan agar kegiatan tersebut dapat diselenggarakan kembali dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Suasana semakin khusyuk saat para ulama memimpin doa bersama. Dalam munajat itu dipanjatkan doa agar Allah SWT memberikan pemimpin-pemimpin yang amanah, takut kepada-Nya, menyayangi rakyat, serta mampu menjalankan tugas dengan penuh keadilan.
Doa juga dipanjatkan agar para pemimpin yang pernah melakukan korupsi diberikan hidayah untuk bertaubat, sedangkan mereka yang berniat melakukan korupsi dijauhkan dari niat buruk tersebut demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik.
Para ulama juga memohon keberkahan bagi Nahdlatul Ulama menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 agar diberi kemudahan serta dikaruniai pemimpin-pemimpin yang mampu membimbing umat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
Sementara itu, KH Muhammad Abdurrahman Al Kautsar (Gus Kautsar) mengajak seluruh jamaah agar terus istiqamah mengamalkan Sholawat Nariyah.
Menurutnya, para ulama sejak dahulu selalu mengajarkan pentingnya menjaga amalan sholawat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Yang paling penting kita berharap, baik kita maupun seluruh jamaah, semoga bisa istiqamah mewiridkan Sholawat Nariyah. Sholawat ini diyakini memiliki banyak keutamaan,” ujarnya.
Sementara itu, Mas Rio menegaskan bahwa dirinya hadir dalam kapasitas sebagai Ketua Panitia, bukan sebagai kepala daerah. Ia juga menegaskan bahwa seluruh penyelenggaraan Haul Masyayikh Nasional merupakan hasil gotong royong para jamaah.
“Ini murni hasil urunan para jamaah, bukan dari APBD dan bukan kegiatan Pemerintah Kabupaten Situbondo,” tegas Mas Rio.
Menurutnya, haul tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada seluruh masyayikh Nusantara yang telah berjasa membimbing umat, sekaligus menjadi ikhtiar bersama memohon keberkahan bagi Indonesia.
Bupati Muda itu mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat yang secara sukarela menyiapkan ribuan nasi gulung bagi tamu dari berbagai daerah.
Ia menyebut jamaah yang hadir berasal dari hampir seluruh wilayah Indonesia, bahkan terdapat rombongan dari Malaysia dan Singapura yang turut mengikuti rangkaian acara.
Mengenai kemungkinan kegiatan tersebut menjadi agenda rutin, Mas Rio menyerahkan sepenuhnya kepada para kiai dan Jemaah Sholawat Nariyah.
“Kalau saya mendengar arahan para masyayikh, kemungkinan lima tahun atau sepuluh tahun lagi, karena ini memang bukan agenda pemerintah, melainkan agenda jamaah,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya acara pada pukul 08.50 WIB, Haul Masyayikh Nasional 2026 meninggalkan kesan mendalam sebagai momentum silaturahmi akbar para ulama, santri, dan masyarakat lintas daerah.
Kebersamaan, doa untuk para masyayikh, serta semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Situbondo menjadi pesan kuat bahwa tradisi pesantren tetap menjadi perekat persatuan umat dan bangsa.












