SITUBONDO (SBINews.id) – Perjalanan hidup Alfa Rizky Dekanvantana Zulkarnain, S.H., menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan mengabdi. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang ini sempat menggantungkan hidup sebagai pengemudi ojek online di Kota Malang sebelum akhirnya mendapat kesempatan mengembangkan karier di Kabupaten Situbondo.
Rizky merupakan sarjana hukum lulusan Universitas Brawijaya yang menyelesaikan pendidikannya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,04. Selama berada di Malang, ia memilih bekerja sebagai pengemudi ojek online untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari setelah menyelesaikan studinya.
Di balik pencapaiannya saat ini, Rizky menyimpan kisah masa muda yang penuh lika-liku. Saat masih duduk di bangku sekolah, ia dikenal sebagai remaja yang gemar berkendara secara ugal-ugalan hingga mengikuti aksi balap liar.
Peristiwa nahas kemudian mengubah jalan hidupnya. Baru dua bulan tercatat sebagai siswa SMA Negeri 1 Panji, Rizky mengalami kecelakaan sepeda motor yang mengakibatkan jari tangan kanannya tidak lagi berfungsi secara normal.
Setelah menjalani masa pemulihan, Rizky memutuskan melanjutkan pendidikannya di MA Al-Cholili, Sumberkolak, Kecamatan Panarukan. Semangatnya untuk terus belajar tidak surut meski harus hidup dengan kondisi disabilitas.
Tekad tersebut membawanya diterima di Universitas Brawijaya Malang melalui jalur mandiri khusus penyandang disabilitas. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk menempuh pendidikan hukum hingga berhasil meraih gelar Sarjana Hukum.
Usai lulus, Rizky kembali berjuang menghadapi realitas kehidupan. Ia bekerja sebagai pengemudi ojek online di Kota Malang demi mencukupi kebutuhan sehari-hari sembari tetap menata masa depannya.
Kesempatan baru datang ketika kisah hidupnya diketahui Bupati Situbondo, Mas Rio. Melalui media sosial TikTok, Mas Rio mengetahui bahwa Rizky merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dengan prestasi akademik yang baik.
Melihat potensi tersebut, Mas Rio menyarankan Rizky untuk kembali ke kampung halamannya di Situbondo. Ia kemudian diberikan kesempatan menjalani program magang di Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Situbondo sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Perjalanan Rizky dari Kota Malang menuju Kabupaten Situbondo pada Rabu malam (8/7/26) menjadi titik balik dalam kisah hidupnya. Dengan menumpang bus umum, Rizky memenuhi undangan untuk bertemu Bupati Situbondo, Mas Rio, di Pendopo Rakyat Situbondo. Pertemuan berlangsung usai agenda Rebbhuwen. Dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, Rizky berkesempatan untuk berdialog dengan Mas Rio.
Di tempat yang sama turut hadir Ketua Satgas Anti Premanisme Situbondo, Syaiful Bahri atau yang akrab disapa Bang Ipoel, bersama rekan-rekan Sinergi Kreatif dan Tim Investasi Situbondo. Kisah perjuangan Rizky yang tetap bertahan mencari nafkah sebagai ojek online meski telah menyandang gelar Sarjana Hukum menyentuh hati para hadirin.
Bang Ipoel pun mengaku tergerak untuk ikut membantu agar Rizky dapat melanjutkan langkahnya di dunia profesi hukum. Di hadapan Mas Rio, Bang Ipoel menyatakan kesediaannya menanggung biaya mengikuti Ujian Profesi Advokat (UPA) dan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), sebagai bekal bagi Rizky untuk meniti karier sesuai disiplin ilmu yang telah ditempuhnya.
“Mas Bupati, ijinkan saya berbagi kebajikan,” ujar Bang Ipoel kepada Mas Rio dengan nada berseloroh.
Ucapan tersebut disambut senyum hangat Mas Rio. Sementara itu, Rizky tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengusap butiran air mata sebagai ungkapan syukur atas perhatian dan kesempatan yang datang di luar dugaannya.
Momen itu menjadi simbol bahwa kepedulian dan kolaborasi mampu membuka harapan baru bagi penyandang disabilitas yang selama ini berjuang dalam keterbatasan. Bagi Rizky, malam itu bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan awal dari kesempatan untuk mengabdikan ilmu hukumnya melalui jalur profesional yang selama ini diimpikannya.
Tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, Rizky juga aktif memberdayakan penyandang disabilitas melalui Komunitas Difabel Ojek Online (Difajek), sebuah komunitas yang menaungi para pengemudi ojek online penyandang disabilitas di Kota Malang.
Menurut Rizky, gagasan mendirikan Difajek muncul setelah ia terinspirasi oleh salah seorang pengurus Pelopor Peduli Disabilitas Indonesia Situbondo (PPDIS) Situbondo, Mbak Luluk.
“Saya terinspirasi dari salah satu pengurus PPDIS Situbondo, yaitu Mbak Luluk. Berangkat dari situ, saya melihat banyak teman-teman disabilitas yang memiliki minat untuk bergabung sebagai pengemudi ojek online. Alhamdulillah, responsnya sangat baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Difajek mulai dirintis pada tahun 2020, setelah pandemi Covid-19. Saat itu ia sendiri bekerja sebagai pengemudi ojek online dan hanya menemukan satu rekan sesama penyandang disabilitas yang berprofesi sebagai driver ojol.
“Ketika itu saya hanya menemukan satu teman disabilitas yang juga menjadi driver ojol, namanya Fuad,” katanya.
Kondisi tersebut mendorong Rizky membangun sebuah wadah yang dapat menjadi tempat berhimpun sekaligus saling menguatkan antar sesama pengemudi ojek online penyandang disabilitas.
“Melihat kondisi tersebut, hati saya tergerak. Saya merasa teman-teman disabilitas yang bekerja sebagai pengemudi ojek online tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Mereka membutuhkan wadah, seperti halnya komunitas ojek online pada umumnya yang beranggotakan pengemudi non-disabilitas. Dari situlah Difajek mulai dibentuk dan berkembang hingga kini,” ungkapnya.
Kini, perjalanan Rizky menjadi inspirasi bahwa semangat, pendidikan, dan kepedulian terhadap sesama mampu membuka jalan baru. Dari seorang pengemudi ojek online hingga dipercaya magang di Bagian Hukum Pemerintah Kabupaten Situbondo, Rizky menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan, melainkan awal untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.












