Berita  

Peran di Balik Layar Trie Utami dalam Re-Imajinasi Anyer–Panarukan: Menghidupkan Kembali Jalur Sutra Jawa

SITUBONDO (SBINews.id) | Publik mungkin lebih mengenal Trie Utami sebagai sosok musisi senior berkarisma di panggung hiburan Tanah Air. Namun, di balik sorot lampu panggung yang ia sebut sebagai “kaki kanan”-nya, wanita yang akrab disapa Mbak Iie ini menyimpan “kaki kiri” yang jarang tersorot: seorang konseptor kreatif di balik layar.

Langkah “kaki kiri” Mbak Iie kini bertaut dengan Kabupaten Situbondo. Ia mendapat mandat khusus dari Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio) untuk membedah dan menerjemahkan pemikiran sang kepala daerah terkait sejarah panjang koridor Anyer–Panarukan.

Menerjemahkan Visi ‘3R’ Mas Rio

Di tangan Mbak Iie dan tim desain kreatifnya di Bandung, gagasan besar Bupati Rio dirumuskan menjadi sebuah formulasi strategis bertajuk 3R:

  1. Road (Jalan): Infrastruktur dan Koridor Fisik
  2. Route (Rute): Konektivitas Ekonomi dan Jalur Perdagangan
  3. Roots (Akar): Identitas Sejarah dan Akar Kebudayaan

“Kaki kiri saya banyak mengurus urusan di belakang layar dan mengkonsep. Salah satunya diberi tugas oleh Mas Rio untuk menerjemahkan apa yang ada di dalam kepalanya,” ujar Mbak Iie.

Menurutnya, Anyer–Panarukan bukan sekadar kenangan masa lalu sepanjang 1.000 kilometer, melainkan sebuah “harta karun” sejarah tebal yang perlu diolah ulang melalui pendekatan re-imajinasi.

Mengubah Narasi: Dari Tragedi Menjadi Potensi Ekonomi

Menjawab keraguan mengenai narasi kelam masa lalu pembangunan jalur tersebut, Mbak Iie menekankan pentingnya berfokus pada dampak masa depan. Secara historis, koridor yang membentang melintasi Puncak, Bandung, Sumedang, Majalengka, hingga Cirebon ini merupakan “Jalur Sutra” Pulau Jawa yang berhasil menghidupkan roda ekonomi dan melahirkan kota-kota baru.

Di tengah hadirnya jalur tol modern saat ini, jalur historis Anyer–Panarukan berisiko terpinggirkan jika tidak diberi napas baru.

Baca Juga:
Pencarian Penggembala Sapi yang Hilang di Hutan Baluran Masuki Hari Keempat, Tim Gabungan Perluas Radius Sisir

“Kita tidak bisa hanya berpatokan pada cerita suramnya. Mari kita lihat dampak positif yang bisa ditimbulkan. Sejarah itu membentuk Jawa secara ekonomi. Sekarang, kita ingin jalur ini kembali menjadi penggerak ekonomi dan pariwisata lokal,” tegasnya.

Kolaborasi Ujung Barat dan Ujung Timur Jawa

Salah satu terobosan dari program ini adalah menjalin kerja sama lintas daerah antara Kabupaten Serang (gerbang barat) dan Kabupaten Situbondo (gerbang timur).

Melalui sinergi dua kabupaten di titik ujung Pulau Jawa ini, keduanya diproyeksikan menjadi inisiator dalam penyusunan satu data baru (one new data) sepanjang koridor 1.000 kilometer tersebut.

Dok.Foto: Trie Utami ketika mempresentasikan Program Anyer-Panarukan bersama Pemkab Situbondo di Intelegent Room

Program Strategis Tiga Tahun, Bukan Sekadar Event

Trie menggarisbawahi bahwa inisiatif ini dirancang sebagai program jangka panjang berdurasi tiga tahun, bukan sekadar pementasan acara (event) sesaat. Program ini disusun secara bertahap dengan output dan outcome yang terukur di setiap tahunnya—mulai dari kesepakatan antar-pemerintah daerah hingga pengembangan sektor pariwisata.

Mengenai aspek teknis pelaksanaan, linimasa, hingga anggaran, Mbak Iie menyerahkan sepenuhnya kepada jajaran birokrasi.

“Kalau anggaran dan waktu pelaksanaan, itu ranah Pak Sekda dan tim Pemkab Situbondo bersama Kabupaten Serang. Tugas saya dan tim adalah memastikan konsep dan fondasi pemikirannya terstruktur dengan jelas,” pungkas Mbak Iie.

Penulis: HamzahEditor: Redaksi
error: