Napak Tilas Besoeki Jadi Puncak Hari Jadi Besuki ke-261

BESUKI – Puncak peringatan Hari Jadi Besuki (HJB) ke-261 ditandai dengan penyelenggaraan Napak Tilas Besoeki, Sabtu (6/9/25). Ribuan warga tumpah ruah di jalanan, mengenakan pakaian tradisional Madura, mengikuti pawai dari Desa Demung menuju pusat kota Besuki. Arak-arakan tersebut menjadi simbol perjalanan panjang terbentuknya Kota Besuki sejak ratusan tahun silam.

Iring-iringan itu berakhir di sebuah Musholla kuno yang diyakini sebagai tempat pertama kali berlabuhnya Ki Wiroakromo, ayahanda Ke Pate Alos, leluhur yang disebut-sebut sebagai peletak dasar peradaban Besuki. Suasana khidmat terasa ketika para peserta napak tilas berdoa bersama di lokasi bersejarah tersebut.

Dalam kesempatan itu, Rahmat, seorang pemerhati sejarah, mengisahkan kembali jejak panjang para pendiri Besuki. Ia menjelaskan bahwa Raden Bagus Kasim atau dikenal sebagai Ke Pate Alos, diangkat menjadi Demang Besuki menggantikan ayahnya, Abdur Rahman Wiroakromo.

Menurut Rahmat, garis keturunan Ke Pate Alos bersambung langsung ke Keraton Mataram. “Ke Pate Alos adalah cicit dari Pakubuwono II. Buyutnya, Raden Abdullah, keluar dari keraton karena sengkarut politik Mataram, lalu hijrah ke Pamekasan dan menikah dengan putri Kiai Patapan,” tuturnya.

Perjalanan itu berlanjut hingga ke Desa Tanjung, Pamekasan. Di sana, Raden Abdullah menikah dengan putri Kiai Tanjung dan melahirkan empat putra: Abdul Qadir, Abdul Rahim, Abdul Karim, dan Abdur Rahman Wiroakromo. Dari sinilah sejarah Demung dan Besuki berawal.

Abdur Rahman Wiroakromo kemudian membuka wilayah Demung, yang kala itu disebut Sentong. Letaknya strategis, diapit kekuasaan Prabu Tawang Alun Blambangan dan Untung Surapati di Pasuruan. Karena wilayah ini semakin berkembang, pada 1755 ia diangkat menjadi Demang Demung oleh Tumenggung Joyo Lelono dari Banger (kini Probolinggo).

Baca Juga:
Berbagi Takjil: Wujud Kepedulian Sosial MPC Pemuda Pancasila Situbondo dalam Bulan Ramadhan

“Seiring majunya Demung, kekuasaan kemudian bergeser ke Besuki. Tepat pada 12 Rabiul Awal 1178 Hijriah, atau 8 September 1764 Masehi, dimulailah babak baru pemerintahan di Besuki,” papar Rahmat.

Lebih lanjut, Rahmat menyebut bahwa dalam catatan sejarah Besuki, terdapat pula tokoh dari kalangan Tionghoa Muslim. Di antaranya Kapten Biwi bergelar Kironggo Pranolo yang dipandang sebagai pejabat pertama dalam persiapan Kadipaten Besuki. Bahkan, pembangunan Masjid Besuki sendiri tidak lepas dari peran seorang Ronggo keturunan Cina bernama Hansuki.

“Ke Pate Alos sendiri menjadi Patih pertama, semacam Sekda saat ini. Kepribadiannya halus, penuh budi pekerti, tapi juga pemberani. Itu sebabnya ia dijuluki Ke Pate Alos,” tambah Rahmat.

Ia juga mengingatkan kisah perlawanan Abdur Rahman Wiroakromo, ayah Ke Pate Alos, yang berhasil mematahkan serangan Gagak Wening saat awal membangun Demung. “Orang Besuki itu bengalan, pemberani. Tapi juga halus budinya. Itu warisan leluhur yang tidak boleh hilang,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Demung, Aguk Prayogi, turut menyampaikan versi singkat sejarah terbentuknya Besuki. Cerita itu menjadi pengantar sebelum napak tilas dimulai.

Acara semakin khidmat dengan sambutan Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio). Dalam pidatonya, Mas Rio menegaskan pentingnya menjadikan sejarah sebagai pijakan membangun masa depan.

“Sekecil apa pun kekuasaan yang kita miliki, jika digunakan dengan benar, akan berdampak bagi masyarakat. Sama halnya dengan napak tilas ini. Bukan sekadar ritual, tapi warisan nilai yang harus kita terjemahkan menjadi manfaat nyata bagi warga Besuki,” ucapnya.

Mas Rio juga menyinggung pesan Bung Karno tentang JAS MERAH (Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah). Ia mengingatkan bahwa generasi saat ini dibentuk oleh sejarah, sehingga wajib menghargai jasa para pendahulu.

Baca Juga:
Mas Rio Optimis PG Pandjie Capai Target 15 Ribu Ton: Semangat Baru untuk Kesejahteraan Masyarakat Situbondo

Dalam sambutannya, Bupati Situbondo itu menyinggung kondisi sosial Besuki hari ini. Ia mengajak semua pihak untuk tidak hanya membanggakan kejayaan masa lalu, tetapi juga bekerja keras mengurangi kemiskinan dan menjaga warisan sejarah.

“Pendopo tua dan bangunan cagar budaya di Besuki banyak yang terancam hilang jika tidak dirawat. Padahal, kita sering bangga menceritakan kejayaan Besuki. Jangan sampai itu hanya tinggal cerita sementara wujud sejarahnya runtuh di depan mata,” tegas Mas Rio.

Ia juga mengaitkan momentum HJB dengan semangat pembangunan. “Sekarang kemiskinan paling tinggi ada di Arjasa dan Besuki. Maka mari kita manfaatkan sejarah ini sebagai energi untuk memperbaiki ekonomi, pemerintahan, sosial, dan budaya Besuki,” tambahnya.

Dengan penuh semangat, Mas Rio berharap Besuki bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Situbondo dalam lima tahun ke depan. “Mari kita jadikan sejarah ini inspirasi. Dengan pena yang kita pegang hari ini, kita bisa menulis masa depan Besuki yang gemilang, makmur, dan membahagiakan rakyatnya,” pungkasnya.

Rangkaian napak tilas pun ditutup dengan doa bersama. Para sesepuh, tokoh agama, masyarakat, hingga pejabat daerah larut dalam kebersamaan, menandai bahwa Hari Jadi Besuki bukan sekadar perayaan, melainkan pengingat atas perjuangan leluhur sekaligus pemacu untuk masa depan.

error: