SITUBONDO (SBINews.id) – Bencana angin puting beliung menerjang wilayah Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Rabu (21/1/26). Meski mengakibatkan kerusakan di area pasar, puluhan rumah warga, hingga fasilitas dapur umum, aktivitas ekonomi masyarakat terpantau tetap berjalan normal.
Suasana di Pasar Besuki pada Rabu pagi memperlihatkan pemandangan atap kios yang rusak parah pasca diterjang angin kencang. Sebagian material atap terlepas dan terbang terbawa pusaran angin. Berdasarkan laporan di lapangan, sedikitnya enam kios mengalami kerusakan berat akibat atap yang ambruk.
Izas Sofi, salah satu pedagang di Pasar Besuki, menuturkan bahwa peristiwa tersebut berlangsung cukup singkat namun mencekam. “Angin puting beliung terjadi sekitar setengah jam. Atap rusak dan ini jelas merugikan kami sebagai pedagang. Pelanggan juga jadi tidak nyaman karena jalanan jadi becek. Untuk sementara, kami lakukan perbaikan secara personal saja,” ujar Izas saat ditemui di lokasi.
Meski kondisi pasar terdampak, denyut nadi ekonomi tidak berhenti. Para pedagang bersama warga sekitar bahu-membahu membersihkan puing-puing dan memperbaiki kios seadanya agar aktivitas jual beli tetap bisa berjalan.
Dampak keganasan angin puting beliung juga merembet ke permukiman warga. Tercatat sebanyak 21 rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga berat. Total kerugian materiil ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.
Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada fasilitas Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terletak di Desa Demung, Kecamatan Besuki. Atap bangunan dapur yang saat ini masih dalam proses pembangunan tersebut dilaporkan rusak, sehingga pengerjaannya sempat tersendat.
Kepala Desa Demung, Aguk Prayogi, mengonfirmasi rincian kerusakan yang terjadi di wilayahnya. “Kerusakan meliputi dapur umum MBG, ruko, dan rumah warga milik 21 orang. Estimasi kerugian mencapai puluhan juta rupiah,” ungkap Aguk Prayogi.
Hingga saat ini, warga di lokasi terdampak memilih untuk melakukan perbaikan secara mandiri. Dengan semangat gotong royong yang kental, warga saling membantu memperbaiki atap rumah dan kios yang rusak agar bisa segera ditempati kembali.
Kondisi masyarakat kini mulai berangsur normal, sambil menunggu koordinasi dan penanganan lebih lanjut dari pihak terkait untuk bantuan rehabilitasi bangunan yang rusak.








