SITUBONDO (SBINews.id) – Tepat satu tahun yang lalu, 20 Februari 2025, Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Ulfiyah melangkah tegap di hadapan Presiden Prabowo Subianto untuk mengucap sumpah jabatan. Kini, 20 Februari 2026, duet yang akrab disapa Mas Rio dan Mbak Ulfi ini menoleh ke belakang dengan sederet catatan impresif yang berhasil mengubah wajah Kabupaten Situbondo.
Bukan perjalanan yang mudah bagi Mas Rio. Datang dari latar belakang konsultan politik tanpa jejak di birokrasi, awalnya banyak pihak yang meragukan kapasitas sang pendiri Politika Research & Consulting (PRC) ini. Namun, sejarah mencatat bahwa “orang luar” ini mampu menumbangkan petahana kuat, Karna Suswandi, dengan selisih tipis 13.697 suara dalam kontestasi Pilkada yang sengit.
Setahun menjabat, Mas Rio mengakui bahwa masa transisi adalah fase yang penuh tantangan. Sebagai sosok non-birokrat, ia harus cepat beradaptasi dengan ritme pemerintahan yang kaku. Namun, ia memilih jalur diplomasi ketimbang konfrontasi.
“Sesuatu yang baru pasti butuh masa penyesuaian. Karena saya tidak punya background birokrat, tentu dunia pemerintahan kabupaten adalah hal baru bagi saya,” ujar alumnus FISIP Universitas Jember tersebut di hadapan para awak media.
Mas Rio terbukti piawai merangkul berbagai kekuatan politik. Tantangan dukungan partai pengusung ia selesaikan dengan menyatukan PPP dan PKB, serta mendapat restu dari para masyayikh, kiai, hingga partai nasionalis. Harmoni politik inilah yang menjadi bahan bakar utama mesin pembangunannya berjalan lancar sepanjang 2025.
Salah satu capaian paling mencolok dalam setahun kepemimpinan Rio-Ulfi adalah indikator makro ekonomi yang melesat tajam. Pada triwulan ketiga 2025, pertumbuhan ekonomi Situbondo tercatat menyentuh angka 6,16 persen.
Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan bukti keunggulan Situbondo dibandingkan kabupaten tetangga di wilayah Tapal Kuda. Sebagai perbandingan, di periode yang sama, Jember mencatatkan pertumbuhan 5,83 persen, Banyuwangi 5,72 persen, dan Lumajang di angka 5,05 persen.
Dari 11 janji politik yang dikampanyekan, Mas Rio mengklaim 10 di antaranya sudah terealisasi dalam waktu singkat. Program Berantas (Pelayanan Kesehatan Gratis Tanpa Batas) dan penyaluran ambulans menjadi garda terdepan dalam pelayanan publik.
Menariknya, Mas Rio dengan jujur mengakui satu janji yang belum terwujud: menghadirkan grup band Sheila On 7 ke Situbondo. Kejujuran ini justru menunjukkan sisi humanis kepemimpinannya yang tidak sekadar memberi janji manis.
Di sektor kemiskinan, hasilnya pun nyata. Hanya dalam kurun waktu lima bulan pertama menjabat, angka kemiskinan berhasil ditekan sebesar 0,34 persen, turun dari 11,51 persen menjadi 11,17 persen.
“Penurunan ini dicapai di saat pemerintahan transisi. Saya tidak hanya bicara soal material, tapi banyaknya penghargaan yang didapat daerah adalah langkah nyata keberhasilan kita bersama,” tegasnya.
Berbeda dengan pemimpin baru yang biasanya gemar merombak kabinet (reshuffle), Mas Rio memilih pendekatan akomodatif. Ia tidak terburu-buru mengganti kepala dinas, melainkan mengajak mereka untuk mengejawantahkan visi-misinya.
Namun, ia juga tegas dalam evaluasi. Untuk mempercepat target “Situbondo Naik Kelas”, Mas Rio berencana melakukan open bidding (lelang jabatan) untuk mengisi posisi strategis di empat instansi krusial:
- Dinas Pertanian
- Dinas Sosial
- Dinas Perpustakaan
- Dinas Peternakan dan Perikanan
Keempat dinas ini dianggap sebagai basis utama untuk melayani kepentingan masyarakat bawah. Dengan semangat kerja keras dan kekompakan para kepala OPD, Mas Rio optimis tahun kedua kepemimpinannya akan membawa Situbondo terbang lebih tinggi lagi.












