Ber-NU Tanpa Ber-PBNU!, Kritik Tajam Gus Lilur terhadap Dinamika PBNU

SITUBONDO — “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU.” Kalimat tersebut kembali ditegaskan HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, di tengah dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) yang menurutnya semakin memperlihatkan jarak antara tradisi keagamaan warga NU dengan persoalan struktural organisasi.

Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Lilur itu menegaskan bahwa slogan tersebut sebenarnya telah ia gagas sejak Januari 2022. Ketika pertama kali dilontarkan, ia mengaku mendapat banyak kecaman dan sindiran.

Namun, menurutnya, waktu kemudian membuktikan bahwa gagasan tersebut memiliki konteks tersendiri. Ia menilai berbagai persoalan yang muncul di tingkat elite organisasi justru membuat sebagian warga NU mempertanyakan hubungan antara keber-NU-an dengan keberadaan seseorang dalam struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Saya membuat istilah Ber-NU tanpa Ber-PBNU ini Januari 2022. Saat itu saya dikecam dan dinyinyirin banyak orang. Saya tertawain mereka sambil bergumam: kalian belum tahu,” ungkapnya.

Gus Lilur kemudian mengaitkan pandangannya dengan dinamika pasca-Muktamar ke-34 NU di Lampung. Ia menilai konflik internal yang terjadi setelah forum tersebut menjadi salah satu contoh persoalan yang membuat warga NU kecewa.

Ia menyebut adanya saling serang, saling membuka persoalan internal, hingga pergantian atau pemecatan di antara pihak-pihak yang disebutnya sebagai mandataris Muktamar ke-34.

Menurut Gus Lilur, fenomena tersebut membuat slogan yang sebelumnya dianggap kontroversial justru semakin mendapatkan ruang untuk diperbincangkan.

“Mandataris Muktamar ke-34 Lampung berantem, saling buka borok sendiri, saling pecat. Semua warga NU malu pada kelakuan mereka yang di PBNU,” katanya.

Setelah Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, ia kembali melontarkan slogan tersebut.

Menariknya, slogan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU” kemudian berkembang menjadi beberapa ungkapan lain yang menurut Gus Lilur memiliki pesan serupa.

Baca Juga:
Operasi Besar Industri Rokok di Madura, Ratusan Pengusaha Masuk Radar Aparat

Di antaranya, “Ber-NU selamanya, ber-PBNU sekedarnya”, “Ber-NU saklawase, ber-PBNU sak cukupè”, dan “Ber-NU saklawasè, ber-PBNU sekedarè”.

Bagi Gus Lilur, substansi perdebatan bukan terletak pada apakah seseorang menjadi bagian dari organisasi NU atau tidak, melainkan pada bagaimana seseorang memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam tradisi ke-NU-an.

Ia menyebut keber-NU-an yang ia yakini bertumpu pada tiga hal – Pertama: bermadzhab Syafi’i. Kedua: berakidah Asy’ariyah. Ketiga: menjalankan tasawuf dengan merujuk antara lain kepada Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.

“Ber-NU bagi saya adalah beragama Islam dengan cara NU,” ujarnya.

Dengan pemahaman tersebut, Gus Lilur berpandangan seseorang tidak harus menjadi bagian dari struktur PBNU untuk menjalankan tradisi keagamaan NU.

“Mengamalkan tiga cara beragama sesuai ajaran NU di atas tidak perlu ber-PBNU. Para kyai alim NU sudah mengajarkan kami hal tersebut,” katanya.

Kritik Gus Lilur kemudian diarahkan secara lebih spesifik kepada kepemimpinan PBNU. Ia menyampaikan penilaian negatif terhadap Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar.

Ia bahkan menyebut Rais Aam sebagai “awam” dan mempertanyakan kapasitasnya sebagai pemimpin keagamaan tertinggi dalam struktur PBNU.

Untuk memperkuat kritiknya, Gus Lilur menyebut adanya dua video yang dibuat atas permintaannya. Video tersebut menampilkan seorang anak tingkat ibtidaiyah yang memberikan komentar terhadap dua pidato KH Miftahul Akhyar.

Dua pidato itu, menurut Gus Lilur, adalah pidato penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan dan pidato pembukaan Muktamar NU di Tambakberas, Jombang.

Gus Lilur mengklaim video tersebut menjadi bagian dari kritik terhadap substansi pidato Rais Aam. Ia bahkan menyebut video tersebut sebagai “fakta dan bukti” mengenai apa yang ia nilai sebagai persoalan kapasitas keilmuan.

Selain itu, Gus Lilur mengaku pernah merilis kritik terhadap pidato Rais Aam di Bangkalan melalui sekitar 80 media. Dalam materi kritik tersebut, ia antara lain menyebut “Rais Aam awam, plagiat, salah pasang harkat”.

Baca Juga:
Dorong Indonesia Jadi Raja Lobster Dunia, Gus Lilur Usulkan Hapus Ekspor Benih

Meski kritiknya diarahkan kepada struktur dan figur tertentu di PBNU, Gus Lilur menegaskan bahwa dirinya tidak sedang menyatakan keluar dari NU.

Sebaliknya, ia justru mengaku tetap menjadi warga NU. Ia membedakan secara tegas antara NU sebagai tradisi keagamaan dengan PBNU sebagai struktur organisasi.

“Saya yang berguru pada banyak kyai alim di NU menolak dipimpin kyai awam. Ber-NU tanpa ber-PBNU,” tegasnya.

Bagi Gus Lilur, pilihan tersebut merupakan bentuk sikap kritis terhadap kepemimpinan organisasi, sekaligus upaya mempertahankan apa yang ia yakini sebagai inti tradisi keagamaan NU. Ia menutup pernyataannya dengan semboyan khasnya, “Salam Amar Makruf Nahi Mungkar”.

HRM. Khalilur R. Abdullah SahlawiyWarga NU, Kyai Kampung.

Penulis: HamzahEditor: Redaksi
error: