Berita  

Putra Daerah Segera Bergabung, RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo Perkuat Layanan TBC Resistan Obat

SITUBONDO — Upaya RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo dalam memperkuat layanan penanganan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) terus dilakukan. Selain menyiapkan fasilitas khusus perawatan pasien TBC RO, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Situbondo tersebut juga terus memperkuat sumber daya manusia, termasuk menghadirkan dokter spesialis paru.

Direktur RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo, dr. Sudharmono, yang akrab disapa dr. Momon, mengungkapkan bahwa dalam waktu mendatang rumah sakit tersebut akan diperkuat oleh seorang dokter spesialis paru yang merupakan putra asli daerah Situbondo.

Dokter muda tersebut, kata dr. Momon, baru saja menyelesaikan pendidikan profesionalnya dan selanjutnya akan berkiprah di RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo.

Kehadiran dokter spesialis paru itu menjadi bagian penting dalam penguatan layanan rumah sakit, khususnya dalam menangani berbagai penyakit yang berkaitan dengan sistem pernapasan, termasuk tuberkulosis.

Menariknya, dokter spesialis paru yang akan bergabung tersebut merupakan putra dari seorang pejabat senior di bidang kesehatan yang telah purna tugas. Dengan demikian, kehadirannya diharapkan tidak hanya memperkuat jajaran tenaga medis RSUD dr. Abdoer Rahem, tetapi juga menjadi bagian dari regenerasi tenaga profesional kesehatan asal Situbondo.

Perkuat Penanganan TBC RO

Saat ini RSUD dr. Abdoer Rahem telah memiliki fasilitas perawatan bagi pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO). Penguatan layanan tersebut juga didukung oleh empat dokter ahli penyakit dalam (3 dokter lama, 1 baru saja bergabung). Kini jumlah tersebut akan bertambah dengan segera hadirnya satu dokter baru sehingga menjadi lima dokter ahli penyakit dalam.

Dengan dukungan tersebut, RSUD dr. Abdoer Rahem memiliki kapasitas yang semakin kuat dalam memberikan pelayanan kepada pasien dengan penyakit infeksi, termasuk kasus TBC yang membutuhkan penanganan lebih kompleks.

Baca Juga:
Situbondo "Naik Kelas": Unair Lirik Kepemimpinan Kolaboratif Mas Rio untuk Jadi Model Nasional

TBC RO merupakan kondisi ketika bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab tuberkulosis telah mengalami kekebalan terhadap satu atau lebih obat antituberkulosis (OAT) yang seharusnya digunakan untuk mengobati penyakit tersebut.

Kondisi resistensi obat dapat terjadi, antara lain, ketika pengobatan tidak diselesaikan sesuai ketentuan, pasien tidak mengonsumsi obat secara teratur, dosis atau jadwal minum obat tidak sesuai, maupun akibat penularan langsung dari penderita TBC yang sudah mengalami resistensi obat.

Karena itu, keberadaan fasilitas khusus dan tenaga medis yang kompeten menjadi penting dalam memastikan pasien mendapatkan diagnosis, pemantauan, serta terapi yang sesuai.

Gejala Perlu Diwaspadai

Secara umum, gejala TBC RO dapat menyerupai TBC biasa. Beberapa gejala yang perlu mendapatkan perhatian antara lain batuk berdahak atau berdarah yang berlangsung lebih dari dua minggu, demam, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan, berkurangnya nafsu makan, sesak napas, hingga nyeri dada.

Namun, gejala saja tidak cukup untuk menentukan seseorang mengalami TBC RO. Pemeriksaan medis dan pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan diagnosis sekaligus mengetahui apakah bakteri penyebab TBC telah mengalami resistensi terhadap obat tertentu.

Dalam konteks inilah keberadaan dokter spesialis paru di RSUD dr. Abdoer Rahem nantinya diharapkan semakin memperkuat kemampuan rumah sakit dalam menangani kasus-kasus penyakit paru dan saluran pernapasan.

Pengobatan TBC RO Terus Berkembang

Penanganan TBC RO membutuhkan regimen obat yang disesuaikan dengan kondisi dan hasil pemeriksaan pasien. Lama pengobatan juga bergantung pada jenis resistensi dan regimen yang digunakan.

Perkembangan terapi TBC dalam beberapa tahun terakhir telah menghadirkan sejumlah regimen oral yang lebih singkat dibandingkan pola pengobatan TBC RO konvensional. Salah satunya adalah regimen berbasis Bedaquiline, Pretomanid, dan Linezolid, dengan atau tanpa Moxifloxacin, yang pada pasien tertentu dapat digunakan dalam regimen sekitar enam bulan berdasarkan kriteria dan pedoman klinis yang berlaku.

Baca Juga:
Semaikan Benih Kepedulian, SDN 2 Kotakan Situbondo Maniskan Perjalanan Pengendara dengan Ratusan Takjil

Karena itu, pasien TBC RO tidak boleh menentukan atau menghentikan pengobatan sendiri. Terapi harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga kesehatan dan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan serta kondisi masing-masing pasien.

TBC Biasa Juga Harus Ditangani Sampai Tuntas

Sementara untuk TBC yang tidak mengalami resistensi obat, pengobatan umumnya dilakukan menggunakan kombinasi OAT lini pertama dalam jangka waktu sesuai regimen yang diresepkan dokter, umumnya sekitar enam bulan.

Obat seperti Rifampicin, Isoniazid, Pyrazinamide, dan Ethambutol digunakan dalam kombinasi sesuai tahapan pengobatan. Pasien harus mengonsumsi obat sesuai dosis dan jadwal yang telah ditentukan.

Hal yang sangat penting adalah tidak menghentikan pengobatan hanya karena gejala sudah membaik. Penghentian atau ketidakpatuhan terhadap terapi dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan dan resistensi obat.

Dukungan keluarga juga memiliki peran penting. Keluarga dapat membantu memastikan pasien mengonsumsi obat sesuai jadwal melalui mekanisme Pengawas Menelan Obat (PMO), memenuhi kebutuhan nutrisi, serta membantu pasien menjalani kontrol secara rutin.

Dari sisi pencegahan penularan, pasien dan keluarga juga perlu memperhatikan ventilasi rumah, menjaga kebersihan lingkungan, memastikan sirkulasi udara berjalan baik, serta menggunakan masker sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Putra Daerah dan Regenerasi Tenaga Medis

Kehadiran dokter spesialis paru putra daerah tersebut menjadi kabar penting bagi pengembangan pelayanan kesehatan di Situbondo. Terlebih, dokter tersebut hadir setelah menyelesaikan pendidikan profesionalnya dan memilih untuk mengabdikan kompetensinya di daerah asal.

Bagi RSUD dr. Abdoer Rahem, tambahan dokter spesialis paru diharapkan menjadi bagian dari penguatan layanan spesialistik sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan penyakit paru dan pernapasan yang semakin berkembang.

Di sisi lain, langkah tersebut juga menunjukkan pentingnya regenerasi tenaga kesehatan profesional di daerah. Putra daerah yang menyelesaikan pendidikan spesialis kemudian kembali untuk mengabdikan keahliannya di daerah asal dapat menjadi aset penting bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

Baca Juga:
Suarakan Tritura Nelayan, Gus Lilur Desak Presiden Prabowo Bentuk Satgas Khusus Basmi Mafia BBL

Dengan fasilitas perawatan TBC RO yang telah tersedia, dukungan empat dokter ahli penyakit dalam, serta rencana bergabungnya dokter spesialis paru putra asli Situbondo, RSUD dr. Abdoer Rahem terus memperkuat kapasitasnya dalam memberikan pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan penyakit paru dan infeksi saluran pernapasan secara lebih komprehensif.

Penulis: HamzahEditor: Redaksi
error: