Berita  

Reses di Situbondo, Dina Lorenza Dorong UMKM Naik Kelas Melalui Pengembangan Ekonomi Kreatif hingga Desa

SITUBONDO – Anggota Komisi VII DPR RI, Dina Lorenza Audria, S.I.P., melaksanakan rangkaian kegiatan reses di Kabupaten Situbondo, Rabu (4/11/2026). Dalam agenda tersebut, Dina mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Rangkaian kegiatan reses tersebut diisi dengan sejumlah agenda, mulai dari Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekonomi Kreatif (Ekraf), pembagian sembako kepada masyarakat, pelatihan inovasi kuliner lokal, hingga sosialisasi standardisasi dan penilaian kesesuaian bagi UMKM.

Agenda pertama berlangsung pukul 09.00 WIB di Simposium Lantai 2 Pasar Mimbaan Situbondo melalui Bimtek Ekonomi Kreatif sesi pertama dengan tema Aktivasi Desa Kreatif Melalui Pengembangan Ruang Kreatif. Kegiatan ini merupakan program Direktorat Fasilitasi Infrastruktur, Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Hadir sebagai narasumber, Dian Permanasari, MIDEC, Staf Ahli Menteri Bidang Riset, Pendidikan dan Hubungan Kelembagaan Kementerian Ekonomi Kreatif.

Dalam pemaparannya, Dian menegaskan bahwa pembangunan ekonomi nasional harus bertumpu pada kekuatan lokal yang tumbuh dari desa, kelurahan, dan komunitas masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan Asta Cita ke-6 Presiden Republik Indonesia, yakni membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.

Menurutnya, ekonomi kreatif memiliki peluang besar menjadi salah satu motor penggerak pembangunan desa melalui pemanfaatan potensi lokal, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penciptaan peluang usaha dan lapangan kerja baru.

Kabupaten Situbondo, lanjutnya, memiliki potensi ekonomi kreatif yang cukup besar, mulai dari subsektor kriya, kuliner, hingga berbagai subsektor unggulan lainnya. Namun, potensi tersebut perlu terus dikembangkan agar mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dian menjelaskan, pengembangan ruang kreatif di tingkat desa memiliki posisi strategis sebagai pusat interaksi, kolaborasi, sekaligus inkubasi bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi.

Melalui ruang kreatif yang aktif, potensi tersembunyi di setiap desa diharapkan dapat dihimpun dan dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, sekaligus terhubung dengan rantai nilai ekonomi kreatif, mulai dari kreasi, produksi, distribusi, pemasaran hingga pelindungan kekayaan intelektual.

Dengan demikian, desa dan kelurahan tidak hanya menjadi sumber bahan baku, tetapi juga mampu menjadi pusat lahirnya produk kreatif yang memiliki daya saing.

Selanjutnya, pada pukul 12.00 WIB, Dina Lorenza juga mengagendakan pembagian sembako kepada ibu-ibu anggota Pengajian Muslimat di Desa Sumber Kolak, Kecamatan Panarukan.

Baca Juga:
DPRD Situbondo Bahas Perubahan APBD 2026, Anggaran Daerah Capai Rp1,76 Triliun

Pada waktu yang sama, kegiatan Bimtek Ekonomi Kreatif sesi kedua kembali digelar di Simposium Lantai 2 Pasar Mimbaan Situbondo. Kali ini, kegiatan mengangkat tema MASAMO (Masak Bersama Master): Inovasi Kuliner Lokal untuk Usaha.

Kegiatan tersebut menghadirkan Iffah Sa’aidah, Direktur Fesyen di bawah Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, serta Edy Wiyono, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Situbondo.

Sementara itu, Lazimatil Hasanah, S.Pd., pemilik Depot Dapur Meme, hadir sebagai narasumber utama atau keynote speaker dalam kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, Iffah Sa’aidah menyampaikan bahwa Kementerian Ekonomi Kreatif hadir sebagai The New Engine of Growth atau mesin baru pertumbuhan ekonomi. Karena itu, pengembangan ekonomi kreatif harus dimulai dari daerah dengan mengoptimalkan kekayaan budaya, kearifan lokal, kreativitas masyarakat, dan keberagaman sumber daya yang dimiliki.

Ia menilai subsektor kuliner menjadi salah satu potensi yang patut dikembangkan di Kabupaten Situbondo. Terlebih, daerah ini memiliki kekayaan sumber daya pangan lokal, termasuk hasil perikanan yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Melalui program MASAMO, Kementerian Ekonomi Kreatif ingin memberikan inspirasi dan membuka wawasan masyarakat bahwa bahan pangan lokal memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kreatif dan inovatif.

Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya menghasilkan atau menjual bahan baku. Lebih dari itu, diperlukan kreativitas dan inovasi agar bahan baku tersebut dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah serta daya jual yang lebih tinggi.

Ia berharap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mampu menangkap peluang bisnis yang dapat dikembangkan. Bagi pelaku UMKM yang telah memiliki usaha, kegiatan tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas inovasi, dan mengembangkan usahanya.

Iffah juga mengapresiasi kolaborasi anggota DPR RI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif serta dukungan Pemerintah Kabupaten Situbondo dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Situbondo, Edy Wiyono, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program MASAMO. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat melalui kolaborasi dengan DPR RI dalam mendorong pengembangan ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat daerah.

Edy menegaskan bahwa pengembangan kuliner tidak dapat dipisahkan dari penguatan UMKM. Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Situbondo selama ini terus berupaya mendorong pertumbuhan UMKM melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan.

Baca Juga:
Kawal Kepulangan Santri, Armada Sabuk Nusantara 74 Dikerahkan ke Pelabuhan Jangkar

Dalam kesempatan itu, Edy memaparkan lima aspek penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan UMKM.

Pertama, pelatihan dan edukasi untuk meningkatkan keterampilan serta pengetahuan pelaku usaha dalam mengolah bahan pangan menjadi produk berkualitas. Salah satunya melalui praktik pembuatan abon berbahan dasar ikan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pengolahan.

Kedua, legalitas dan perizinan usaha. Pelaku UMKM didorong memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat halal, serta izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) sesuai ketentuan. Ia menegaskan bahwa pengurusan NIB dapat dilakukan secara gratis melalui layanan pemerintah, sementara perizinan lainnya dapat dikonsultasikan dengan dinas terkait.

Ketiga, menjaga konsistensi kualitas dan kuantitas produk. Menurutnya, pelaku usaha harus memperhatikan mutu bahan baku maupun hasil akhir produksi. Jangan sampai upaya menekan biaya justru mengurangi kualitas produk sehingga berdampak terhadap kepercayaan konsumen.

Keempat, memperhatikan kemasan atau packaging. Produk berkualitas harus didukung kemasan yang menarik, bersih, dan profesional agar memiliki daya tarik serta nilai jual lebih tinggi.

Kelima, memperluas pemasaran melalui strategi marketing, baik secara langsung maupun digital. Pelaku UMKM didorong memanfaatkan media sosial, termasuk TikTok, sebagai sarana promosi dan memperluas jangkauan konsumen.

Selain kelima aspek tersebut, Edy juga menyoroti pentingnya dukungan permodalan. Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Situbondo telah menghadirkan program pembiayaan UMKM melalui Bursa UMKM dengan bunga nol persen. Dalam skema tersebut, bunga pinjaman ditanggung pemerintah daerah sehingga pelaku usaha berkewajiban mengembalikan pokok pinjaman sesuai ketentuan.

Sementara untuk kebutuhan peralatan dan perlengkapan usaha, pelaku UMKM dapat menyampaikan usulan melalui dinas terkait maupun jalur aspirasi DPR RI agar dapat diperjuangkan melalui program pemerintah pusat.

Edy berharap kesempatan mengikuti pelatihan tersebut dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh peserta, sehingga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan untuk mengembangkan usaha masing-masing.

Agenda reses kemudian dilanjutkan pada pukul 14.00 WIB melalui kegiatan Sosialisasi Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian bagi UMKM yang diselenggarakan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mendorong pelaku usaha memahami pentingnya standar dan kesesuaian produk untuk meningkatkan kualitas serta daya saing.

Dina Lorenza: Ekonomi Kreatif Harus Masuk Desa, UMKM Situbondo Didorong Naik Kelas

Dalam wawancara seusai rangkaian kegiatan, Dina Lorenza menyampaikan bahwa agenda reses kali ini memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk menyampaikan berbagai masukan, kebutuhan, dan aspirasi terkait pengembangan usaha.

Baca Juga:
Raih Predikat 'Kota Menuju Bersih' Nasional, Mas Rio Siapkan Roadmap Situbondo Bebas Sampah

Menurutnya, kehadiran program ekonomi kreatif hingga ke tingkat desa merupakan peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara lebih merata.

“Ini kebetulan ekonomi kreatif, kemudian ada juga BSN. Jadi, banyak masukan dari para pelaku UMKM. Saya mengajak mereka untuk bisa naik kelas,” ungkap Dina.

Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi kreatif tidak boleh hanya terpusat di perkotaan, tetapi harus menjangkau desa-desa agar potensi masyarakat setempat dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Dina mencontohkan, masyarakat yang selama ini menjalankan usaha sederhana, seperti berjualan kue, perlu mendapatkan pendampingan dan akses pengembangan usaha agar produknya dapat dipasarkan lebih luas.

Selain meningkatkan kualitas produk, pelaku UMKM juga perlu mulai memanfaatkan perkembangan teknologi digital, termasuk pemasaran melalui sistem afiliasi atau affiliate marketing.

Dina turut menyoroti sejumlah produk lokal yang mulai memiliki peluang menembus pasar ekspor. Ia menyebut produk sapu lidi dan berbagai produk olahan makanan, termasuk abon ikan, sebagai contoh potensi usaha yang dapat terus dikembangkan.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Ekonomi Kreatif atas dukungan dan program yang telah diberikan untuk mendorong pengembangan ekonomi kreatif hingga ke daerah.

Terkait tindak lanjut aspirasi peserta, Dina mengungkapkan bahwa salah satu kebutuhan yang disampaikan pelaku UMKM adalah bantuan peralatan produksi yang lebih modern.

Salah satu contohnya, pelaku usaha tempe yang membutuhkan peralatan tradisional dengan dukungan teknologi lebih modern agar proses produksi dapat berjalan lebih efektif dan mampu meningkatkan kapasitas usaha.

Berbagai masukan tersebut, menurut Dina, menjadi bahan penting untuk ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk dalam memperjuangkan kebutuhan sarana dan prasarana produksi bagi pelaku UMKM.

Melalui rangkaian agenda reses tersebut, Dina berharap sinergi antara DPR RI, Kementerian Ekonomi Kreatif, Badan Standardisasi Nasional, dan Pemerintah Kabupaten Situbondo semakin kuat dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif.

Dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia, inovasi produk, standardisasi, dukungan peralatan, serta perluasan akses pemasaran, UMKM Situbondo diharapkan mampu berkembang dan naik kelas, bahkan memiliki kesempatan menembus pasar nasional hingga internasional.

Pengembangan ekonomi kreatif berbasis desa pun diharapkan menjadi salah satu kekuatan baru dalam menggerakkan perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penulis: HamzahEditor: Redaksi
error: