Berita  

Islamic Night Talk Situbondo, Mas Rio: Santri Harus Mampu Membawa Perubahan

SITUBONDO | Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo menggelar Islamic Night Talk bertajuk “Santri, Light Up Your Life” dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2026. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Rakyat Situbondo, Rabu (21/10/2026), tersebut menjadi ruang diskusi keislaman, filsafat, dan nilai-nilai kesantrian yang terbuka untuk masyarakat umum.

Acara yang disiarkan secara langsung melalui kanal Kabupaten Situbondo itu dihadiri sekitar 400 audiens. Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, yakni KH. Nuris Zain Tibyan, KH. Zaimuddin, dan Lora Zainul Muqit. Diskusi dipandu oleh Imam Nawawi selaku moderator.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau Mas Rio, Sekretaris Daerah Kabupaten Situbondo Drs. H. Akhmad Yulianto, M.Si., Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Drs. H. Haryadi Tejo Laksono, M.Si., serta Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian Situbondo Drs. Sugiyono, M.Pd.I. Turut hadir sejumlah tamu undangan lainnya.

Forum tersebut diisi dengan pemaparan mengenai filsafat Islam dan dunia kepesantrenan, dilanjutkan diskusi serta tanya jawab interaktif. Melalui dialog tersebut, peserta diajak mendalami peran santri dalam kehidupan bermasyarakat, pentingnya fondasi spiritualitas, serta bagaimana nilai-nilai agama dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam sambutannya, Bupati Situbondo Mas Rio menekankan bahwa santri harus memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas, sekalipun menghadapi berbagai tantangan dan dinamika kehidupan.

“Santri, sejauh yang saya lihat, dalam berliku-likunya mengarungi kehidupan, harus tahu jalan pulang. Setidaknya, mereka tahu arah dan tujuan hidup, meskipun harus melewati berbagai liku, gejolak, dan tantangan kehidupan,” ujar Mas Rio.

Menurutnya, salah satu unsur penting dalam membentuk karakter santri adalah keberadaan guru, terutama kiai yang menjadi panutan sekaligus sumber nilai dalam pendidikan pesantren. Ia menilai, kualitas pesantren tidak cukup hanya diukur dari fasilitas dan sistem pendidikan, tetapi juga dari kekuatan nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi ruh pendidikan.

Baca Juga:
Harhubnas Ke-55 Di KSOP Panarukan: Situbondo Dorong Penguatan Konektivitas Laut Dan Pembukaan Rute Baru

Mas Rio kemudian menceritakan pengalamannya ketika mencari pondok pesantren untuk putranya. Dalam proses tersebut, ia mengaku mendatangi sejumlah pesantren dan berdiskusi dengan berbagai pihak untuk menemukan lembaga pendidikan yang mampu memadukan sistem modern dengan nilai-nilai kepesantrenan yang kuat.

Ia menyebut sejumlah pesantren di Jakarta, Bekasi, dan Malang sebagai bagian dari pencariannya. Namun, pertimbangan mengenai keberadaan figur kiai dan nilai-nilai yang hidup dalam lingkungan pesantren menjadi hal penting dalam menentukan pilihan.

Pada akhirnya, ia memilih pondok pesantren yang diasuh Gus Ali di Tulangan. Putranya, Onto Wirjo—nama kecil Pangeran Diponegoro—diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang baik melalui pendidikan tersebut.

Mas Rio juga menceritakan pengalaman ketika kembali berkomunikasi dengan putranya sekitar tiga hingga empat minggu sebelum acara. Dalam percakapan melalui telepon itu, sang anak menyampaikan pengalaman yang membuatnya bangga dan meninggalkan kesan mendalam. Pengalaman tersebut semakin menguatkan pandangannya mengenai pentingnya pendidikan karakter dalam kehidupan santri.

Lebih lanjut, Mas Rio menyoroti hubungan antara kemanusiaan dan spiritualitas. Ia mengapresiasi gagasan bahwa menjadi manusia berarti memanusiakan manusia, sekaligus menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dari pencapaian spiritualitas.

“Saya sangat menyukai pernyataan yang tadi disampaikan kepada saya, bahwa menjadi manusia berarti memanusiakan manusia. Menjadi manusia merupakan puncak spiritualitas,” ungkapnya.

Ia mengajak peserta untuk tidak berhenti pada pemahaman tentang identitas sebagai santri, tetapi juga mempertanyakan kontribusi nyata yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Menurut Mas Rio, setiap orang perlu merenungkan apakah kehadirannya membawa perubahan bagi lingkungan sekitarnya. Pertanyaan mengenai arti keberadaan manusia tersebut, kata dia, menjadi penting untuk memahami tanggung jawab individu dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah membawa perubahan besar bagi kehidupan umat manusia. Semangat perubahan serupa, menurutnya, juga harus tercermin dalam peran para pemimpin dan seluruh elemen masyarakat.

Baca Juga:
Pemkab Situbondo dan Yayasan John Foirset Kembali Gelar Operasi Katarak Massal, Targetkan 240 Pasien

Dalam konteks tersebut, santri dinilai memiliki bekal berupa ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan pengalaman pendidikan yang dapat digunakan untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

Mas Rio menegaskan, nilai-nilai kesantrian tidak seharusnya berhenti di lingkungan pondok pesantren. Nilai tersebut harus tetap dibawa ketika seseorang memasuki berbagai bidang profesi, baik sebagai petani, aparatur sipil negara (ASN), polisi, tentara, tenaga penjual mobil, maupun profesi lainnya.

Apa pun profesi yang dijalani, seorang santri diharapkan tetap berorientasi pada upaya menghadirkan manfaat dan perbaikan bagi kehidupan masyarakat.

“Ilmu tidak pernah cukup, kebaikan tidak pernah memiliki batas akhir, dan tidak ada titik ketika manusia boleh merasa bahwa upaya melakukan kebaikan sudah selesai,” tegasnya.

Ia menilai, upaya memperbaiki kehidupan merupakan tanggung jawab yang terus berlanjut. Karena itu, semangat perubahan menuju keadaan yang lebih baik harus menjadi nilai yang dipegang oleh setiap individu, termasuk mereka yang membawa identitas dan karakter kesantrian.

Imam Nawawi: Nilai Kesantrian Harus Membudaya di Masyarakat

Sementara itu, moderator kegiatan, Imam Nawawi, menjelaskan bahwa Islamic Night Talk diselenggarakan untuk memperingati Hari Santri Nasional sekaligus membudayakan nilai-nilai kesantrian di tengah masyarakat Situbondo.

Menurut Imam Nawawi, santri tidak hanya terbatas pada orang yang pernah menempuh pendidikan di pondok pesantren. Lebih luas dari itu, santri juga merujuk pada siapa pun yang memiliki karakter dan menjalankan nilai-nilai kesantrian dalam kehidupan sehari-hari.

“Santri itu bukan hanya orang yang pernah mondok, tetapi siapa pun yang berkarakter santri,” jelas Imam Nawawi.

Ia mengatakan, nilai-nilai utama yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut meliputi keteguhan berpegang pada agama Allah, mengikuti sunah Rasulullah SAW, serta menjaga konsistensi dan integritas dalam kehidupan.

Baca Juga:
Jaga Kesehatan Mental WBP, Rutan Situbondo Gelar Psikoedukasi Pengelolaan Emosi

Imam Nawawi menambahkan, sasaran kegiatan ini adalah masyarakat umum, terutama aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo. Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan memiliki fondasi spiritualitas yang kuat dalam menjalankan tugas dan membangun daerah.

Menurutnya, spiritualitas dan nilai keagamaan penting untuk menjadi landasan dalam menjalankan tanggung jawab, baik di lingkungan pemerintahan maupun dalam kehidupan sosial.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi sesaat. Ke depan, upaya membudayakan literasi keagamaan akan terus didorong agar masyarakat Situbondo memiliki tradisi belajar, membaca, dan mendalami ajaran agama secara berkelanjutan.

“Kita akan terus membudayakan literasi, mengaji tentang keagamaan sebagai ikon Kabupaten Situbondo agar kita punya tradisi literasi,” katanya.

Ittisholana Jadi Wadah Belajar dan Mengaji

Terkait wadah bagi masyarakat yang ingin memperdalam nilai-nilai kesantrian di luar lingkungan pondok pesantren, Imam Nawawi menyebut ITI Sholana sebagai salah satu ruang yang dapat dimanfaatkan untuk belajar agama, mengaji, dan membudayakan literasi keagamaan.

Ia menjelaskan, wadah tersebut dibentuk oleh masyarakat sebagai tempat untuk terus belajar, mendalami ajaran agama, serta menghidupkan kegiatan selawat.

Imam Nawawi menegaskan bahwa kegiatan dan wadah pembelajaran tersebut terbuka bagi siapa pun, tanpa dibatasi latar belakang tertentu.

“Ini terbuka kepada siapa pun, sebenarnya. Terbuka kepada masyarakat Situbondo pada umumnya,” ujarnya.

Melalui Islamic Night Talk bertema “Santri, Light Up Your Life”, Pemkab Situbondo menghadirkan ruang dialog yang menghubungkan pemikiran Islam, pendidikan pesantren, dan tanggung jawab sosial. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya nilai kesantrian sebagai bekal membangun integritas, memperkuat spiritualitas, serta menghadirkan perubahan positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Penulis: HamzahEditor: Redaksi
error: