Berita  

Langit Kalbut Menanti Hilal: Situbondo Ambil Bagian dalam Penentuan 1 Dzulhijjah 1446 H

SITUBONDO — Senja menyambut ribuan harapan di pesisir utara Jawa, tepatnya di Pelabuhan Kalbut, Kecamatan Mangaran, Situbondo, pada Selasa (27/6/2025). Di lokasi ini, pemerintah daerah bersama Kementerian Agama dan sejumlah tokoh agama melaksanakan kegiatan rukyatul hilal guna menetapkan awal bulan Dzulhijjah 1446 Hijriah, penentu jatuhnya Hari Raya Iduladha.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, S.Pd.I. (Mbak Ulfi) didampingi Plh. Sekretaris Daerah Kabupaten Situbondo, Drs. H. Akhmad Yulianto, M.Si, bersama Asisten Pemerintahan dan Kesra Prio Andoko, M.Si. Tampak pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Situbondo, Dr. H. Muhammad Mudhofar, S.Ag., M.Si., Pimpinan OPD, Kepala Bagian Setda, Pimpinan PT Pertamina Marine Region V-STS Kalbut, perwakilan KSOP Kelas IV Panarukan Wilker Kalbut, serta unsur Forkopimka Mangaran, termasuk Camat, Kapolsek, dan Danramil.

Kehadiran tokoh-tokoh agama seperti Ketua Muhammadiyah, Ketua Al Irsyad, Ketua LDII, serta Ketua Badan Hisab Rukyat (BHR) Situbondo Ustadz Irfan Hilmi, memperkuat suasana spiritual dalam kegiatan ini. Tak ketinggalan, guru dan mahasiswa dari perguruan tinggi agama Islam turut menyemarakkan ikhtiar penentuan awal bulan hijriah ini.

Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Situbondo, Dr. H. Muhammad Mudhofar, menyampaikan bahwa penentuan 1 Dzulhijjah adalah momentum penting menjelang akhir tahun hijriah, karena menentukan pelaksanaan Hari Raya Idul Adha dan ibadah sunah 10 hari sebelumnya.

“Kementerian Agama menetapkan tanggal ini melalui metode hisab dan rukyat. Di Situbondo, posisi hilal diperkirakan antara 1,5 hingga 2 derajat,” ujar Mudhofar. Ia pun mengapresiasi konsistensi Pemkab Situbondo dan BHR dalam menyelenggarakan kegiatan rukyat setiap tahunnya di Kalbut.

Namun harapan menyaksikan hilal secara langsung terhambat kondisi langit yang mendung. Ketua BHR Situbondo, Ustadz Irfan Hilmi, menjelaskan bahwa waktu rukyat sejatinya dimulai sekitar pukul 17.13 WIB, sesaat setelah matahari terbenam. Namun, langit yang buram menyebabkan pandangan sangat terbatas, bahkan kapal-kapal di cakrawala pun nyaris tak tampak.

Baca Juga:
Komunitas Guru Ngaji di Suboh Deklarasi Dukungan Kepada Mas Rio Patennang

Irfan menambahkan bahwa secara perhitungan astronomis, wilayah Aceh menjadi satu-satunya daerah dengan kemungkinan melihat hilal secara kasat mata, dengan ketinggian mencapai lebih dari 3 derajat. Sementara di Situbondo, ketinggian hilal hanya 0 derajat 58 menit, masih di bawah syarat imkan rukyat sebesar 1 derajat.

“Kami sudah memantau sejak pukul 17.15 WIB, dan kini sudah lewat pukul 17.17. Hilal seharusnya sudah terbenam. Dengan cuaca mendung dan posisi yang sangat rendah, kecil kemungkinan kita bisa melihatnya hari ini,” jelas Irfan. Ia juga menyentil pentingnya regenerasi ahli falak di Situbondo, karena selama bertahun-tahun belum ada kader baru yang lahir dari kalangan santri atau akademisi.

Sebagai langkah konkret, BHR Situbondo telah melibatkan guru fisika dari SMA Negeri 2 dan SMA Panarukan dalam pelatihan ilmu falak sejak tahun lalu. Diharapkan, mereka kelak dapat menghitung dan memvalidasi data hilal secara mandiri serta mendorong siswa melanjutkan studi falak ke UIN Sunan Ampel atau UIN Kalijaga.

Sementara itu, sambutan penuh apresiasi disampaikan oleh Mbak Ulfi. Ia menilai bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar pengamatan astronomi, tetapi juga bentuk keimanan kolektif umat Islam Situbondo.

“Tidak ada ikhtiar yang sia-sia. Meski hilal tidak terlihat, semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita semua,” ujar Mbak Ulfi. Ia juga menekankan pentingnya regenerasi ahli falak seperti yang telah disampaikan oleh Irfan Hilmi sebelumnya.

Ucapan terima kasih disampaikan Mbak Ulfi kepada seluruh pihak yang telah mendukung, termasuk Diskominfo dan para kepala desa. Di akhir sambutannya, ia mengajak umat Islam untuk bersiap menyambut puasa sunah 10 hari, jika Kementerian Agama menetapkan 1 Dzulhijjah jatuh keesokan harinya. “Kami tunggu keputusan resmi dari pemerintah. Apa pun hasilnya, semoga kita senantiasa dalam keberkahan,” tuturnya.

Baca Juga:
Ji Lilur: Pintu Menuju Mampu

Dalam wawancara lanjutan, Irfan Hilmi menegaskan kembali bahwa pemantauan di Situbondo belum berhasil karena tiga alasan: ketinggian hilal belum mencapai imkan rukyat, waktu pengamatan yang sangat terbatas, dan langit barat yang mendung. “Namun, harapan tetap ada di Aceh. Jika di sana hilal terlihat, maka 1 Dzulhijjah kemungkinan besar jatuh esok,” ujarnya.

Kendati demikian, Kementerian Agama RI akhirnya mengumumkan secara resmi bahwa 1 Dzulhijjah 1446 H jatuh pada Rabu, 28 Juni 2025, setelah adanya kesaksian terlihatnya hilal di Aceh pada detik-detik akhir menjelang Sidang Isbat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar, dalam konferensi pers di Jakarta, menyampaikan bahwa dari 114 titik pemantauan di Indonesia, hanya satu yang melaporkan keberhasilan melihat hilal, yakni di Aceh. “Sangat menegangkan sebenarnya. Sampai detik terakhir, tidak ada yang melihat. Tiba-tiba ada kabar dari Aceh,” ungkap Nasaruddin.

Meskipun hanya satu titik, pemerintah menyatakan bahwa kesaksian tersebut sah secara syar’i dan astronomis, sehingga penetapan 1 Dzulhijjah dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan keputusan tersebut, umat Islam di Situbondo dan seluruh Indonesia kini telah memiliki pijakan resmi untuk melaksanakan puasa sunah dan mempersiapkan diri menyambut Idul Adha 1446 Hijriah. Meski hilal tak tampak dari Kalbut, semangat kebersamaan dan ilmu yang ditebarkan dari kegiatan rukyat ini menjadi cahaya yang tetap menyinari hati umat.

Penulis: HamzahEditor: Redaksi
error: