Berita  

Lawan Inflasi dari Halaman Rumah: Situbondo Luncurkan Program Pekarangan Cabai Sejahtera

SITUBONDO (SBINews.id) – Tantangan inflasi pangan kini tidak hanya dijawab dengan kebijakan di atas kertas, tetapi melalui gerakan nyata dari akar rumput. Pemerintah Kabupaten Situbondo, melalui Tim Penggerak PKK, menggandeng Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) Jember untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui pemanfaatan lahan pekarangan.

Bertempat di Aula Lantai II Pemkab Situbondo, Kamis (12/2/2026), kolaborasi ini diwujudkan dalam pelatihan Gerakan Keluarga Peduli Inflasi. Acara tersebut sekaligus menjadi panggung peluncuran Program Pekarangan Cabai Sejahtera 2026, sebuah inisiatif strategis untuk menekan harga komoditas pangan dari tingkat rumah tangga.

Ketua TP PKK Kabupaten Situbondo, Husna Laili (Mbak Una) menjelaskan bahwa pemilihan cabai sebagai fokus utama bukanlah tanpa alasan. Berdasarkan data ekonomi, cabai merupakan salah satu komoditas ‘pedas’ yang kerap memicu fluktuasi inflasi.

“Cabai menyumbang sekitar 5 hingga 7 persen terhadap inflasi pangan. Karena itu, intervensi di level rumah tangga melalui optimalisasi pekarangan menjadi pendekatan yang paling rasional,” ujar Mbak Una di hadapan jajaran Bank Indonesia (BI) Jember dan para kader PKK.

Sebagai langkah awal, program ini menyasar enam desa/kelurahan pemenang lomba pemanfaatan pekarangan tahun lalu sebagai proyek percontohan (pilot project). Para peserta tidak hanya diberi bibit, tetapi juga pendampingan intensif selama satu siklus tanam atau sekitar empat bulan.

Mbak Una menekankan bahwa program ini mengintegrasikan tiga dimensi penting: ketahanan pangan keluarga, stabilitas ekonomi lokal, dan penguatan literasi masyarakat. “Jika pasokan di rumah tangga kuat, tekanan permintaan di pasar bisa ditekan,” tambahnya.

Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah, S.Pd.I. (Mbak Ulfi), yang hadir membuka acara, menegaskan bahwa pengendalian inflasi harus menjadi gerakan semesta. Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras dan cabai paling berdampak pada warga berpenghasilan rendah.

Baca Juga:
Nestapa dari Jatibanteng: Jeritan Ratna Ningsih di Kawasan Tanah Konflik Arab Saudi

“Pengendalian inflasi tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan makro. Dibutuhkan gerakan nyata di tingkat keluarga. Ketahanan pangan harus dimulai dari lingkup terkecil,” tegas Mbak Ulfi, yang juga merupakan jebolan Ponpes Sukorejo tersebut.

Selain soal ekonomi, Mbak Ulfi menyoroti pentingnya edukasi konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Pemanfaatan pekarangan diharapkan tidak hanya menghasilkan cabai, tetapi juga sayuran dan tanaman obat keluarga (TOGA) yang berkelanjutan.

Langkah ini dinilai linear dengan upaya pemerintah daerah dalam menekan angka stunting. “Dengan memanfaatkan pekarangan dan menerapkan pola B2SA, kita tidak hanya membantu dompet rumah tangga, tetapi juga memastikan anak-anak kita mendapatkan asupan gizi yang berkualitas,” jelasnya.

Program Pekarangan Cabai Sejahtera ini diharapkan tidak menjadi seremonial belaka. Mbak Ulfi meminta adanya komitmen berkelanjutan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), penyuluh pertanian, hingga pemerintah desa untuk terus mengawal para kader di lapangan.

Melalui sinergi antara TP PKK, BI Jember, dan pemerintah daerah, Situbondo optimistis dapat menciptakan kemandirian pangan yang dimulai dari sejengkal tanah di halaman rumah.

Penulis: HamzahEditor: Hamzah
error: