SITUBONDO (SBINews.id) – Kabupaten Situbondo menyatakan kesiapan lahir dan batin untuk menjadi saksi sejarah besar bagi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang akrab disapa Mas Rio, secara terbuka menyatakan kesiapannya jika Situbondo ditunjuk menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
Pernyataan yang dilontarkan di sela-sela kegiatan “Napak Tilas Sejarah NU” ini langsung memicu gelombang dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk para praktisi hukum muda yang menilai momentum ini sebagai titik balik bagi marwah NU dan kemajuan daerah.
Praktisi hukum muda, Jayadi, S.H. (Mas Jay), menilai bahwa menyelenggarakan Muktamar di Situbondo bukan sekadar tentang seremoni, melainkan upaya rekonsiliasi sejarah. Ia merujuk pada Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, yang menjadi tonggak kembalinya NU ke Khittah 1926.

“Muktamar ini bisa menjadi momentum napak tilas untuk merumuskan kembali semangat Khittah. NU perlu membangun kembali citranya dan meminimalisir isu-isu miring yang berkembang saat ini, mulai dari urusan tambang hingga potensi perpecahan di internal PBNU,” ujar Mas Jay.
Ia juga menyoroti sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai figur teladan yang memiliki kedekatan sejarah dengan Situbondo.
“Gus Dur adalah tokoh yang diterima semua golongan. Keteladanan dan keunikan beliau —atau dalam bahasa Madura disebut kehelapan— harus kita contoh agar NU tetap menjadi rumah yang sejuk bagi semua,” ungkap Mas Jay.
Selain aspek ideologis, Mas Jay menambahkan bahwa akan ada multiplier effect bagi Situbondo jika acara berskala nasional ini benar-benar terwujud. Fokus perhatian nasional akan tertuju pada Situbondo, yang diharapkan mampu mendongkrak sektor ekonomi lokal, pariwisata, hingga infrastruktur daerah.
Senada dengan hal tersebut, Hendriyansyah, S.H., M.H. (Bang Hendri), menekankan bahwa peran Situbondo dan sosok Kiai As’ad Syamsul Arifin tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya NU. Situbondo, menurutnya, adalah pelopor moderasi beragama.

“NU adalah pionir Islam moderat yang menghargai keragaman. Di Situbondo, nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa sangat dijunjung tinggi, terutama di lingkungan pesantren. Jadi, sangat tepat jika Muktamar ke-35 kembali ke sini,” tegas Bang Hendri.
Untuk memahami mengapa usulan Mas Rio dan para praktisi hukum ini begitu kuat, berikut adalah beberapa fakta sejarah yang melatarbelakanginya:
A. Peran KHR. As’ad Syamsul Arifin
Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo di Situbondo adalah kediaman tokoh legendaris NU, KHR. As’ad Syamsul Arifin. Beliau adalah “penyampai pesan” (tongkat dan tasbih) dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari saat proses pendirian NU.
B. Muktamar ke-27 (1984): Titik Balik Sejarah
Muktamar ini sangat monumental karena dua keputusan besar:
- Kembali ke Khittah 1926: NU secara resmi menyatakan diri keluar dari politik praktis (saat itu sebagai bagian dari PPP) dan kembali menjadi organisasi sosial-keagamaan.
- Penerimaan Pancasila: NU menjadi organisasi Islam pertama yang secara terbuka menerima Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
C. Potensi Ekonomi dan Pariwisata Religi
Situbondo memiliki garis pantai yang panjang serta akses jalur Pantura yang strategis. Keberadaan ribuan pesantren menjadikannya pusat pendidikan Islam di Jawa Timur bagian timur. Jika Muktamar digelar, ribuan Nahdliyin dari seluruh pelosok negeri akan datang, yang secara otomatis menggerakkan roda UMKM dan penginapan.












