SITUBONDO (SBINews.id) – Pemerintah Kabupaten Situbondo menggelar Ngopi Bareng Mas Rio yang dikemas dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Percepatan Pelaksanaan Kegiatan Fisik, Senin (8/12/25), di Pendopo Kabupaten Situbondo. Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah daerah dan para kontraktor se-Kabupaten Situbondo menjelang penutupan tahun anggaran.
Acara tersebut dipimpin langsung Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau akrab disapa Mas Rio. Turut hadir Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah (Mbak Ulfi), Plh Sekda Situbondo sekaligus Asisten Pemerintahan dan Kesra drs. Priyo Andoko, M.Si., Plt Kepala Dinas PUPP Abdul Kadir Jaelani, S.Sos., Kepala Bidang Bina Marga Arifin Pria Utama, S.T., M.T., Kepala Bapenda Situbondo Drs. Haryadi Tejo Laksono, M.Si., serta pejabat teknis terkait lainnya.
Plt Kepala Dinas PUPP Abdul Kadir Jaelani dalam sambutannya menjelaskan bahwa pertemuan ini sejatinya telah direncanakan sejak Oktober 2025. Namun baru dapat terlaksana karena sebagian besar paket pekerjaan, khususnya di lingkungan Dinas PUPP, masih berada pada tahapan pengadaan hingga penandatanganan kontrak.
“Sebagian rekanan baru melaksanakan kontrak dalam satu minggu terakhir, bahkan ada yang masih tahap perencanaan, seperti kegiatan perencanaan pembangunan di Pasar Mimba’an,” ujar Abdul Kadir.
Ia menegaskan bahwa inti dari pertemuan tersebut adalah penyatuan visi dan pandangan antara pemerintah daerah dan para rekanan sebagai mitra strategis pembangunan. Menurutnya, sebagai aparatur sipil negara, tugas utama adalah melaksanakan kebijakan pimpinan sekaligus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Sampean semua adalah mitra dan stakeholder Pemkab Situbondo. Kita harus satu visi, satu niat terbaik untuk melayani masyarakat dan membangun Situbondo sesuai keahlian masing-masing,” katanya.
Abdul Kadir juga menyinggung pentingnya kepastian hukum dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa. Ia mengakui adanya potensi perbedaan antara perencanaan dan kondisi riil di lapangan, namun hal tersebut dapat disiasati sepanjang sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku.
“Ketika RAB di perencanaan berbeda dengan kondisi lapangan, silakan disiasati sesuai regulasi, misalnya melalui KCO dan mekanisme lain yang sah,” tegasnya.
Memasuki akhir tahun anggaran, Dinas PUPP juga berkewajiban melakukan evaluasi dan penilaian terhadap seluruh hasil pekerjaan. Selain pengawasan resmi melalui PPK dan pengawas teknis, pihaknya membentuk tim monitoring cepat yang melaporkan langsung kondisi proyek di lapangan.
“Kami ingin memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai kontrak, spesifikasi, dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat,” pungkas Abdul Kadir sebelum menyerahkan forum kepada Bupati Situbondo.
Dalam arahannya, Mas Rio menyampaikan bahwa pertemuan tersebut sangat penting mengingat tanggung jawab besar yang diembannya sebagai kepala daerah, khususnya dalam pengelolaan keuangan negara dan pengungkit ekonomi masyarakat.
Mas Rio memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi Situbondo yang menunjukkan tren positif. Berdasarkan paparan High Level Meeting bersama Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Situbondo yang pada awal 2025 berada di angka 4,4 persen, kini meningkat menjadi 6,16 persen dan telah melampaui rata-rata nasional maupun provinsi.
“Pertumbuhan ini salah satunya ditopang oleh government spending. Proyek-proyek yang dikerjakan teman-teman kontraktor menyerap tenaga kerja, menciptakan pendapatan, menjaga inflasi, dan menggerakkan ekonomi,” ujar Mas Rio.
Ia menekankan bahwa sejak awal menjabat, kebijakannya adalah memastikan proyek-proyek pemerintah sebisa mungkin dikerjakan oleh pengusaha dan tenaga kerja lokal Situbondo. Tujuannya agar perputaran uang tetap berada di daerah.
“Kalau 70 persen kue anggaran dimakan orang luar, uangnya akan dibawa keluar Situbondo. Tapi kalau yang bekerja orang Situbondo, uangnya muter di sini, ekonomi kita hidup,” tegasnya.
Mas Rio juga mengingatkan soal pentingnya kualitas pembangunan. Dengan APBD Situbondo yang terbatas, ia menolak praktik pembangunan asal-asalan yang menyebabkan kerusakan dini dan memaksa pemerintah menganggarkan ulang di tahun berikutnya.
“Kalau jalan idealnya bertahan 10 tahun. Minimal lima tahun. Jangan baru satu-dua tahun sudah rusak. Itu dzalim namanya, sementara masih banyak desa yang jalannya rusak,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia mengaku serius melakukan pengawasan langsung terhadap proyek-proyek strategis, bahkan turun ke lapangan untuk memastikan spesifikasi teknis dipenuhi. Menurutnya, pembangunan berkualitas adalah kunci pemerataan dan keadilan bagi masyarakat.

Mas Rio juga menyoroti persoalan manajemen proyek, terutama komunikasi antara kontraktor, subkontraktor, dan pihak terkait lainnya. Ia menyinggung praktik saling menjatuhkan, termasuk memelihara oknum untuk melaporkan sesama kontraktor.
“Kalau saling lapor, saling sikat, kapan Situbondo mau maju? Akhirnya proyek jadi korban, kualitas turun, anggaran habis,” katanya.
Terkait pendanaan, Mas Rio memahami kebutuhan modal para kontraktor dan menyatakan telah berkomunikasi dengan perbankan agar lebih fleksibel. Namun ia mengingatkan agar para kontraktor tetap menjaga rekam jejak keuangan agar tetap bankable.
Menjelang penutupan tahun anggaran, Mas Rio meminta seluruh pekerjaan segera diselesaikan sesuai spek dan volume. Ia menegaskan pembayaran akan dilakukan secara adil berdasarkan hasil pekerjaan yang terverifikasi.
“Kerja sesuai spek, saya juga tidak macam-macam. Situbondo sudah on the track, sudah naik kelas,” ucapnya.
Sesi dialog ditutup dengan pertanyaan dari Efendi, salah satu kontraktor lokal, yang berharap agar pelaksanaan proyek dapat dimulai lebih awal di tahun anggaran serta adanya kemudahan uang muka bagi kontraktor daerah. Ia juga menyinggung perlunya solusi elegan terkait relasi kontraktor dengan LSM dan media.
Menanggapi hal tersebut, Mas Rio meminta pemahaman bahwa dirinya baru efektif bekerja sejak Maret 2025. Namun ke depan, ia berharap percepatan dapat dilakukan. Soal relasi dengan LSM dan media, Mas Rio menekankan pentingnya bekerja secara profesional tanpa saling menjatuhkan.
“Garis besarnya sederhana, sebisa mungkin orang Situbondo yang bekerja, sesuai kapasitas, sesuai spesifikasi. Kalau itu kita pegang bersama, Situbondo akan benar-benar naik kelas,” tandasnya.












