Berita  

Menyentuh Hati Ibu-Ibu: Strategi Camat Situbondo Atasi Banjir dan Ubah Sampah Jadi Rupiah

SITUBONDO (SBINews.id) – Masalah banjir yang kerap menghantui sejumlah titik di Kecamatan Situbondo, seperti di kawasan Seroja, ternyata menyimpan cerita miris di balik saluran air yang tersumbat. Bukan sekadar sampah plastik biasa, petugas normalisasi seringkali menemukan daster, kain jarik, bantal, hingga boneka yang menyumpal aliran air.

Kenyataan pahit inilah yang mendorong Camat Situbondo Kota, Rosy Rosaindratna, S.Sos., untuk bergerak melakukan terobosan. Baginya, solusi banjir tidak bisa hanya mengandalkan normalisasi sungai, melainkan harus menyasar akar masalahnya: manajemen sampah rumah tangga.

Dok.Foto: Purwanto ketika memberikan materi pengolahan sampah kepada ibu-ibu rumah tangga di Pendopo Kecamatan Situbondo Kota.

Darurat Sampah dan Pendekatan “Hati ke Hati”
Dalam acara Sosialisasi Pemanfaatan dan Pengelolaan Sampah Terintegrasi yang dihadiri ibu-ibu dari Desa Talkandang dan Desa Olean, Camat Rosy memaparkan kondisi darurat yang tengah dihadapi. Selain ancaman banjir, umur Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sliwung diprediksi hanya mampu bertahan 1,5 hingga 2 tahun ke depan.

“Mindset masyarakat kita masih buang sampah sembarangan. Bahkan ada yang terang-terangan mengaku masih membuang ke sungai. Jika saya hanya memerintah, mungkin tidak didengar. Maka saya pilih menyentuh hati ibu-ibu,” ujar Rosy.

Ia sengaja merangkul kaum ibu karena mereka adalah unit terkecil pengelola rumah tangga. Rosy menekankan pentingnya peran Ibu RT sebagai tokoh yang “digugu dan ditiru”. Strateginya jelas: gerak bersama dari unit terkecil untuk memilah sampah organik dan anorganik.

Tidak hanya memberi instruksi, Kantor Kecamatan Situbondo Kota pun memberikan teladan dengan membentuk Satgas Sampah dan memiliki rekening Bank Sampah sendiri di Bank Jatim. “Kami mulai dari internal dulu. Sampah rapat kami pilah, kami uangkan. Jadi kita bergerak bersama warga, bukan hanya memerintah,” tegasnya.

Rangkaian sosialisasi ini tidak berhenti pada teori. Camat Rosy memboyong para peserta mengunjungi tempat pengolahan sampah milik Purwanto (Mas Pur) di Jalan Hasan Asegaf, Kelurahan Dawuhan. Di sana, mata para peserta terbuka lebar melihat sampah yang selama ini dianggap sebelah mata ternyata bisa menghasilkan ekonomi tinggi.

Baca Juga:
Komisi III Batalkan Sepihak Audiensi Dengan Aliansi Kontraktor Situbondo

Mas Pur membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang benar, sampah organik bisa disulap menjadi 8 hingga 10 jenis pupuk berkualitas dan obat-obatan tanaman.

Dok.Foto: Mas Pur ketika menjelaskan tentang produk pupuk dari sampah di tempat pengolahan sampah miliknya.

“Banyak warga memandang sampah sebelah mata, padahal nilai ekonominya lumayan. Di ruangan kecil ini, omzet dari olahan sampah bisa mencapai Rp20 juta,” ungkap Mas Pur di hadapan ibu-ibu yang tampak antusias.

Ia menjelaskan bahwa kulit buah dan sayuran memiliki nutrisi spesifik untuk merangsang pembuahan, sementara daun mangga yang diolah bisa menjadi penggembur tanah yang luar biasa. Mas Pur bahkan menyatakan kesiapannya untuk menjemput sampah yang telah dipilah oleh warga di tingkat RT.

Transformasi pemikiran mulai dirasakan oleh warga. Bu Ani, salah satu peserta, mengaku sangat terbantu dengan edukasi ini. Ia menyadari bahwa selama ini kesadaran masyarakat memang masih rendah.

Dok.Foto: Bu Ani, salah satu ibu warga yang mengikuti kegiatan pengarahan.

“Alhamdulillah, kami senang mendapat ilmu yang bermanfaat. Dulu mungkin orang seenaknya buang sampah, tapi setelah arahan Mas Pur tentang bank sampah, kami jadi sadar. Harapannya, lingkungan jadi lebih bersih dan sehat,” kata Bu Ani.

Di akhir kegiatan, Camat Rosy menitipkan pesan mendalam bagi seluruh masyarakat Situbondo agar berhenti saling menyalahkan dan mulai melakukan introspeksi.

“Jangan hanya menyalahkan pemerintah. Mari kita koreksi diri sendiri. Masalah sampah ini tidak akan selesai tanpa dimulainya kesadaran dari masyarakat itu sendiri,” tutupnya.

Penulis: HamzahEditor: Hamzah
error: