SITUBONDO (SBINews.id) – Suasana di internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menjadi sorotan tajam. Ketegangan yang berlarut-larut di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia ini kian hari kian mengkhawatirkan. Tak jarang, warga nahdliyin menggambarkan kondisi saat ini sebagai fase yang ‘ambyar‘ hingga ‘mudyar‘—sebuah ungkapan untuk kondisi yang berantakan dan sulit disatukan kembali.
Kondisi ini ironis, mengingat para tokoh yang terlibat seharusnya berada dalam satu gerbong organisasi yang harmonis. Secara organisatoris, Katib Aam idealnya selaras dengan Rais Aam, Ketua Umum harus seirama dengan Sekretaris Jenderal, serta Wakil Ketua Umum dan Bendahara Umum yang semestinya bekerja bahu-membahu. Namun, realitas yang terjadi justru diwarnai pertengkaran berkepanjangan yang kerap menjadi konsumsi publik.
Dinamika Dua Kubu
Berbagai analisis menyebutkan bahwa ketegangan di PBNU kini terpolarisasi ke dalam dua kelompok utama. Meski konflik NU sering kali dianggap sebagai perseteruan personal antara Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal, pengamatan mendalam menunjukkan dinamika yang lebih kompleks.
Berikut adalah pemetaan tokoh-tokoh yang kerap dikaitkan dalam narasi konflik di PBNU:

Menelusuri Pola Relasi: Rekam Jejak KH Miftahul Akhyar
Banyak warga NU, terutama di tingkat akar rumput, mempertanyakan mengapa ketegangan ini seolah tak pernah usai. Pasca-Islah Lirboyo yang sempat memberikan secercah harapan rekonsiliasi, ketegangan justru kembali meruncing.
Sebuah perspektif historis mencoba menelusuri pola relasi kepemimpinan selama beberapa dekade terakhir. Fokus pengamatan banyak tertuju pada figur Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar, yang dinilai memiliki pola keterlibatan dalam berbagai episode ketegangan di lingkungan NU.
Era Surabaya (2000–2005): Saat menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Surabaya, ia bekerja di samping KH Asep Saifuddin Chalim, tokoh yang dikenal dengan jaringan pendidikan luas. Kabar yang berkembang di kalangan nahdliyin Surabaya mencatat adanya perbedaan pandangan dalam pengelolaan organisasi yang membuat hubungan keduanya kurang harmonis.
Era PWNU Jawa Timur (2007–2018): KH Miftahul Akhyar kemudian mendampingi KH Mutawakkil Alallah sebagai Ketua PWNU. Meski sempat terlihat padu, muncul riak ketegangan terkait batasan kewenangan antara Syuriah dan Tanfidziyah, yang memicu dorongan agar ia berkiprah ke tingkat nasional.
Era PBNU (2015–Sekarang): Di tingkat nasional, pola serupa tampak terulang. Saat mendampingi KH Ma’ruf Amin di era KH Said Aqil Siradj, dinamika relasi pun dinilai tidak selalu berjalan mulus. Hingga akhirnya, pada masa kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf pasca-Muktamar Lampung 2021, perselisihan pun kembali pecah ke ruang publik.
Menakar Kepemimpinan NU Masa Depan
Bagi banyak kalangan, pola yang terus berulang ini menjadi bahan refleksi kolektif. Konflik dalam organisasi sebesar NU tentu multifaktor—mulai dari perbedaan visi, kendala komunikasi, hingga perebutan pengaruh. Namun, kritik juga mengemuka terkait profil kepemimpinan yang diharapkan warga nahdliyin.
Terdapat keresahan mengenai gaya kepemimpinan yang dianggap jauh dari nilai kesederhanaan. Publik mulai membandingkan profil Rais Aam saat ini dengan sosok-sosok legendaris seperti KH Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz. Kedua tokoh tersebut dikenang bukan hanya karena kedalaman ilmu, tetapi juga karena keteduhan sikap dan kesederhanaan hidup yang menjadi perekat persatuan umat.
Kritik terhadap gaya hidup yang dianggap mewah—yang kontras dengan kondisi santri dan masyarakat di akar rumput—menjadi salah satu sorotan yang mewarnai diskusi di kalangan kiai kampung.
Harapan untuk Muktamar ke-35
Menjelang Muktamar NU ke-35, narasi yang berkembang di akar rumput cukup jelas: NU membutuhkan figur pemimpin yang mampu hadir sebagai penyejuk, bukan pemicu fragmentasi. Warga nahdliyin berharap organisasi ini tidak lagi tersandera oleh konflik elite yang berkepanjangan.
NU adalah organisasi yang terlalu besar untuk sekadar dihabiskan energinya oleh pertengkaran internal. Saat ini, harapan besar disematkan pada lahirnya kepemimpinan baru yang mampu membawa kembali semangat *amar ma’ruf nahi munkar* dengan pendekatan yang lebih merangkul, teduh, dan mengutamakan kemaslahatan umat di atas kepentingan struktural.
Salam Amar Ma’ruf Nahi Munkar
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy – Warga NU, Kiai Kampung










